Kerajaan Gaib di Kedung Blok Istal

Apabila memasuki musim penghujan, tak pelak, sebagian besar warga s kecamatan Pamanukan dan kecamatan Legon Kulon, mulai merasa was-was. Ya … banjir yang terjadi dua tahun lalu bakal terulang lagi. Para pembaca tentu masih ingat betapa tentang bencana banjir yang melanda kabupaten Subang dua tahun lalu, di mana yang paling parah dialami oleh para warga kecamatan Pamanukan.

Saat itu, ketinggian air mencapai 2 meter, dan terendah 60 cm, melahap rumah dan pesawahan penduduk. Sebanyak kurang lebih 5000 tempat tinggal dan 1000 Ha lebih areal pesawahan tenggelam. Padahal ketika banjir datang, padi sedang akan menguning. Tak hanya itu, seorang penduduk dikabarkan meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik.

Hal itu berawal dari jebolnya tanggul sungai Cipunagara, sebelah barat sepanjang tiga puluh meter. Tepatnya tanggul yang berada di Blok Istal (nama kampung) di desa Mulyasari, Padahal lokasi tanggul yang jebol itu ada di pusat kota, sekitar 50 m dari ruas jalan raya yang menghubungkan Subang dan tempat wisata Pondok Bali. Bahkan, terletak di belakang rumah dinas Camat.

Entah, sudah berapa biaya yang dihabiskan untuk perbaikannya. Anehnya, dibekas jebolnya tanggul, tanah ukurannya selalu melesak dan bahkan temboknya sudah mulai terlihat akan roboh lagi.

Boleh dikata, setiap musim penghujan tiba, bukan hanya warga yang terdekat saja yang merasa khawatir, mereka yang mukim berjauhan pun turut merasakan hal yang sama. Jadi jangan heran, pada jam-jam tertentu, pengeras suara di musholah-musholah selalu mengingatkan agar penduduk tidak tidur terlalu lelap karena air sungai Cipunagara sedang naik. Belum lagi kentongan-kentongan yang bertalu-talu sehingga sauasana jadi bertambah mencekam. Ya … mereka benar-benar trauma dengan peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu.

Walau setelah jebol tanggul langsung diperbaiki, tetapi, di malam hari, terutama saat musim penghujan, tidak membuat penduduk menjadi bertambah tenang. Mereka seolah tak yakin dengan kekuatan tanggul itu dalam menahan derasnya air yang melimpah.

“Coba saja direhab. Walau Pemda mengeluarkan duit banyak, tapi, pasti bakal jebol lagi. Mending duitnya dibagikan saja kepada rakyat miskin yang butuh makan,” demikian gerutu lelaki yang tak mau disebutkan namanya.

“Memangnya kenapa Kang?” Tanya Misteri ingin tahu.

“Coba lihat, baru beberapa bulan lalu direhab besar-besaran … sekarang, tanah urugannya sudah amblas. Padahal enggak sedikit tanah merah diurugkan kesana, tapi, mana sekarang tanahnya?” Paparnya sengit sambil menunjuk ke tempat yang tembok betonnya sudah miring.

“Memangnya kenapa?” Misteri pun kembali bertanya dengan datar.

“Seharusnya yang duduk di pemerintahan itu percaya kalau dari dulu masyarakat di sekitar sini sudah tahu ada sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata lahir,” sahutnya lirih.

Menurut beberapa keterangan yang berhasil diendus Misteri, persis di lokasi jebolnya tanggul, tepatnya di kaki tanggul ada semacam lubang besar. Dan hal itu dibenarkan oleh orang tua yang benar-benar tahu keadaan tempat itu. Menurutnya, pada mulanya lubang itu dipergunakan untuk pembuangan sekam yang berasal dari salah satu penggilingan padi. Ya … hanya berjarak kurang lebih seratus meter dari tanggul terdapat sebuah penggilingan padi peninggalan kolonial Belanda. Konon, kala itu merupakan Huller terbesar di Jawa Barat. Walau masih berfungsi, tetapi, kini Huller tersebut hanya beroperasi ala kadarnya. Bahkan praktis terbengkalai. Dan seiring dengan berjalannya waktu, kini, Huller yang menempati lahan seluas 3 Ha dikuasai oleh pengusaha keturunan yang hanya memanfaatkan tempat itu seperempatnya saja. Sisa lahannya dibiarkan menyemak. Begitu juga dengan bekas lorong di bawah tanah yang dulu dipakai untuk pembuangan sekam ke sungai Cipunagara turut pula dibiarkan. Karena terlalu lama dibiarkan, tak pelak, orang pun mulai melupakan keberadaan lorong-lorong itu.

Berbeda dengan sudut pandang para supranatural, di dalam lobang besar di bawah tanggul itu terdapat suatu komunitas makhluk tak kasat mata. Pendapat itu tak ada yang menepis, apalagi, masyarakat sekitar pernah ada yang melihat penampakan kerbau bule yang berenang di saat air sungai sedang naik. Konon, kerbau bule itu sengaja menumbuk-numbukan sepasang tanduknya kearah badan tanggul, sehingga tanggul itu rapuh dan akhirnya jebol!

Misteri jadi penasaran. Setelah melihatsendiri betapa tak ada keanehan pada badan tanggul sejak mulai hulu hingga hilir, pertanyaanya, kenapa hanya tanggul di bilangan Blok Istal yang jebol? Pertanyaan ini akhirnya terjawab tuntas manakala Misteri berhasil beremu dengan saksi mata yang amat mengetahui peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun lalu di sana.

Dan lelaki yang sudah mendekati usia senja itu menuturkan panjang lebar peristiwa yang terjadi sekitar tahun 60-an kepada Misteri. Dan berikut adalah rangkumannya:

“Mungkin ini merupakan pembalasan dari para arwah orang yang ditenggelamkan hidup-hidup di lokasi itu,” tuturnya dingin.

Paparnya, saat itu, tepatnya, pada waktu penumpasan G 30 S/PKI, Kabupaten Subang merupakan salah satu tempat penampungan bagi para tahanan yang didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Boleh dikata, baik tahanan laki-laki (PKI dan antek-anteknya) dan wanita (Gerwani) semuanya diangkut dengan menggunakan keronjo (wadah yang terbuat dari anyaman bambu, dan sekarang biasa dipakai untuk mengangkut babi-pen). Tapi, ada keanehan bagi masyarakat yang melihatnya. Di antaranya, penjara tidak pernah penuh walalu tahanan selalu datang pada tiap harinya. Selain itu, wajah yang mereka lihat selalu baru. Tegasnya, wajah yang kemarin sempat mereka lihat, tidak bakal bisa terlihat lagi untuk selamanya.

Selidik punya selidik, akhirnya banyak yang tahu. Tiap tahanan datang, malamnya, dalam keadaan hidup-hidup mereka langsung dieksekusi tanpa diadili dengan cara kedua kakinya diganduli roda dogong (lori, kereta kecil-pen) yang terbuat dari besi milik Huller tersebut. Entah sudah berapa ratus nyawa dan roda lori yang tertanam di sekitar sungai Cipunagara di Blok Istal itu.

Tetapi, pendapat itu ditepis oleh salah seorang pemuka masyarakat yang telah mukim berpuluh-puluh tahun di Blok Istal. Menurutnya, komunitas gaib yang menghuni kedung Blok Istal itu punya hubungan dengan penghuni gaib sungai Kalisewo. Sungai yang merupakan pembatas antara dua kabupaten, Subang dan Indramayu, dan berjarak 20 Km arah timur Cipunagera.

Ditambahkan, warga yang mukim di sekitar Blok Istal itu terkadang melihat penampakan seorang wanita cantik yang turun dari angkutan umum dari arah timur. Tak lama kemudian, sosok itu menuju ke arah bibir sungai dan raib entah kemana! Biasanya, peristiwa semacam itu bakal terjadi bila air sungai sedang meluap. Selepas kejadian itu, siapa pun yang menyaksikan bakal bercerita kepada warga untuk mengingatkan kepada mereka bahwasanya bencana bakal datang.

Yang jelas, keanehan yang terjadi di Blok Istal bukan melulu penampakan wanita misterius saja. Pernah sekali waktu ada salah seorang warga masyarakat yang melihat penampakan seekor buaya yang teramat besar berenang dengan kecepatan yang fantastis dari hilir menuju hulu. Tetapi, ada suatu peristiwa menggemparkan di rentang tahun 80-an yang sampai sekarang masih menjadi buah bibir masyarakat setempat.

Kali ini, kejadian itu menimpa 5 orang kuli panggul yang setiap hari duduk di pinggiran jalan raya tepat di depan pintu gerbang Huller menunggu gerbang yang berjarak sekitar 30 meter dari tanggul itu dibuka oleh para centeng. Dan seperti biasa, mereka pun berbincang dengan asyik. Keasyikan itupun mendadak terhenti. Betapa tidak, tanpa terlihat dari mana datangnya, mendadak di depan mereka berhenti sebuah becak yang mengangkut seorang penumpang wanita yang berwajah cantik dan berbadan sintal berisi.

Mereka terkesima. Yang jelas, mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa sosok nan seksi dan menawan itu turun dari becak dan berjalan menuju tanggul. Entah berapa lama mereka terdiam mengkuti angannya masing-masing. Dan mereka mulai tersadar manakala si tukang becak dengan setengah berteriak berkata sambil memerlihatkan selembar daun sirsak, “Kang … lihat … lihat … lihat!”

Awalnya, tak seorang pun dari mereka ada yang mengerti maksudnya. Dengan suara memberondong, si tukang becak pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya. “Perempuan tadi mengaku dari Cirebon dan minta diantar ke sini …” kata si tukang becak. Seketika, kesadaran mereka berlima pun pulih. Dengan serta merta memburu ke tanggul. Tapi apa yang terjadi? Walau dicari sampai belasan menit, si wanita itu tetap saja tampak tampak batang hidungnya. Ya … raib bak ditelan bumi!

Akhirnya, dengan digayuti perasaan takut yang teramat sangat, mereka pun kembali ke dapan pintu gerbang untuk menenangkan diri. Ya … mau tidak mau, kita memang harus memercayai keberadaan makhluk tak kasat mata yang juga merupakan ciptaanNya.

0 komentar:

Poskan Komentar