Waliyullah yang berarti kekasih Allah, memang tersebar dimana-mana. Tak terkecuali pula di Jawa Barat yang sebagian besar penduduknya bersuku Sunda. Di beberapa tempat di Jawa Barat, sebenarnya banyak makam yang ramai diziarahi, terutama pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya adalah makam Sunan Rahmat Suci yang berdiri di sebuah bukit di wilayah Garut. Menurut keterangan juru kunci makam ini, Sunan Rahmat Suci adalah wali yang masih keturunan Pajajaran.
Seperti diketahui, Pajajaran merupakan kerajaan Hindu terbesar di Jawa Barat. Tidak begitu jelas siapa pendiri dan kapan berdirinya. Namun lokasinya diketahui di Bogor sekarang. Raja-raja yang pernah berkuasa di antaranya, adalah: Prabu Lingga Raja Kencana, Prabu Wastu Kencana, dan Prabu Siliwangi.
Di antara raja-raja tersebut yang paling termasyhur adalah Prabu Siliwangi. Raja yang terkenal amat bijaksana ini beristerikan seorang puteri bernama Dewi Kumalawangi. Dari rahim isterinya ini lahirlah tiga orang putera, yaitu: Raden Walangsungsang, Dewi Rarasantang, dan Raden Kiansantang.
Prabu Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap. Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kiansatang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua.
Konon, Raden Kiansantang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang kesatria sejati, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.
Diriwayatkan, Prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal dia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon pada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.
Untuk memenuhi permintaan puteranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan puteranya, Prabu Kiansantang.
Usaha tersbut hanya sia-sia saja. Tak seorangpun di antara para ahli nujum itu yang bisa menunjukkan orang yang mampu menunjukkan di mana gerangan orang yang bisa mengalahkan Raden Kiansanteng. Seluruh yang hadir di keraton hanya bingung.
Untunglah, kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari. Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di Tanah Suci Mekkah. Jauh sekali dari tanah Pasundan. Namanya Sayyidina Ali.
“Aku ingin bertemu dengannya?” Tukas Raden Kiansantang.
“Untuk bisa bertemu denganya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.
Syarat-syarat tersebut, adalah: Pertama, harus mujasmedi dahulu di ujung kulon, atau ujung Barat tanah Pasundan. Kedua, harus berganti nama menjadi Galantrang Setra Galantrang artinya berani dan Setra artinya suci. Mungkin maksudnya keberanian bertarung harus dilandasi kesucian hati.
Bukan main gembiranya Prabu Kiansantang mendengar kabar ini. Begitu pula semua yang hadir waktu itu. Suasana hening berubah menjadi cair kembali. Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Prabu Kiansantang memakai nama baru, Galantrang Setra. Setelah itu dia pergi ke ujung kulon untuk mujasmedi agar Sang Hyang Widhi Wasa memberikan kekuatan lahir dan batin serta mempertemukan dirinya dengan orang yang disebut sebagai Sayyidina Ali.
Setelah selesai mujasmedi, Galantrang Setra meninggalkan Pajajaran menuju Tanah Mekkah dengan membawa bekal secukupnya. Hatinya tak sabar lagi ingin bertemu Sayyidina Ali. Sepanjang perjalanan dia membayangkan pertarungan hebat antara dirinya dengan orang Mekkah tersebut.
Terbesit juga dalam pikirannya bahwa akhirnya dialah yang menang. Dengan begitu maka dia akan dikenal sebagai pendekar pinunjul di seluruh jagat, bukan hanya di tanah Pasundan.
***
Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke tanah Arab. Yang pasti, sesampainya di tanah Mekkah, dia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah. Badannya tegap dan suaranya berwibawa. Kepada orang itu dia bertanya, “Apakah Anda kenal dengan Sayyidina Ali?”
“Oh, kenal sekali!” Jawabnya dengan ramah.
“Bisakah Anda mengantar saya ke rumahnya?” Tanya Galantrang sekali lagi.
“Oh bisa, tentu bisa!”
Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka berdua melangkahkan kaki menuju rumah Sayyidina Ali. Semakin jauh melangkah detak jantung Galantrang Setra terasa makin cepat. Pertarungan tidak lama lagi terjadi, pikirnya.
Baru saja beberapa puluh meter melangkah, tiba-tiba lelaki itu mengantarnya berhenti sambil menengok ke belakang.
“Galantrang, tongkatku ketinggalan. Tolong ambilkan !” Katanya.
Galantrang menolak. Pantang baginya disuruh-suruh orang. Apalagi oleh orang Mekkah yang baru dia kenal.
“Kalau kamu tidak mau mengambilkan tongkatku, maka aku tidak akan mengantarmu ke tempat Sayyidina Ali,” ancam orang Mekkah itu.
Maka terpaksa Galantrang menuruti perintahnya. Tentu saja hatinya menggerutu. Ketika sampai di tempat yang dimaksud Galantrang mencabut tongkat itu dengan tangan kiri. Dikiranya ringan, karena tertancap ditumpukan pasir. Ternyata sulit dicabut. Kemudian dia mengambilnya dengan tangan kanan. Masih juga tak bisa dicabut.
Akhirnya dengan kedua tangan. Aneh, sama sekali tongkat itu tak dapat digerakkan. Galantrang penasaran. Dicobanya sekali lagi dengan mengerahkan seluruh kekuatan lahir dan batinnya. Apa yang terjadi? Tongkat tetap tidak tercabut, malah kedua kakinya amblas terperosok ke dalam hamparan padang pasir.
Tapi, sebagai jawara dia pantang menyerah. Namun, setelah sekian lama mengerahkan seluruh tenaga dan terus menerus membaca mantera, kakinya malah makin amblas. Bahkan, keluar darah dari seluruh pori-pori tubuhnya.
Ketika itu, Galantrang tercengang melihat darahnya sendiri. Tiba-tiba orang Mekkah itu datang menghampiri. Dengan membaca Bismillahi dia mencabut tongkatnya dengan mudah. Bersamaan dengan itu, hilang pula darah di sekujur tubuh Galantrang.
Sungguh sangat menakjubkan. Galantrang kagum pada kehebatan kalimah yang dibaca si pemilik tongkat. Dia ingin sekali hafal mantera tersebut untuk menambah kesaktiannya. Jika nanti bertarung dengan Sayyidina Ali, mantera itu akan dibacakan olehnya. Pasti dia menang, pikirnya. Maka dia minta diajari membacanya. Tapi orang Arab itu menolak mengajarinya, karena Galantrang belum masuk Islam.
Mereka terus berjalan menuju rumah Sayyidina Ali. Di tengah perjalanan ada seorang bertanya, “Kenapa kamu terlambat pulang Ali?”
Mendengar nama Ali disebut, Galantrang amat terkejut. Dia tak menduga sama sekali, bahwa orang yang sedang bersamanya adalah Sayyidina Ali. Mendadak muncul pikiran, bagaimana mungkin dirinya dapat mengalahkan Sayyidin Alu, sedangkan mencabut tongkatnya saja sampai berkeringat darah.
Rasa takut dan malu bercampur jadi satu. Keberanian Galantrang hilang sirna. Seluruh ilmu kanuragan yang selama ini jadi kebanggaannya lenyap seketika. Mungkin lebih baik pulang saja, pikirnya. Tak ada gunanya berlama-lama di Mekkah. Enggan baginya bertemu lagi dengan Sayyidina Ali.
Namun ketika dalam perjalanan pulang dia bingung tak tahu jalan. Langkah kakinya tak tentu arah. Seperti ada kekuatan yang menghalanginya pulang. Di sela-sela istirahat melepas lelah, dia teringat pada mantera yang diucapkan Sayyidina Ali. Betapa hebatnya mantera itu, pikirnya.
“Kau harus masuk Islam!” Suara ini terngiang-ngiang di telinganya. Ya, dia harus masuk Islam jika ingin diajari kalimah sakti itu. Padahal, selama ini, dia menganut agama Hindu, memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Bagaimana pula dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi, jika tahu dia meninggalkan agama leluhurnya?
Akhirya dia memutuskan bersedia masuk Islam demi memiliki ilmu linuwih. Karena itu, dia kembali menemui Sayyidina Ali. Di sana dia dibimbing mengucapkan dua kalimah syahadat. Juga dibimbing mengucapkan basmallah, “Bismillahir rahmanir rahim”.
Selain kalimah-kalimah tadi, banyak lagi kalimah-kalimah lain yang dia hafalkan selama dia mukim di Mekkah. Konon, setelah dua puluh hari belajar agama Islam Galantrang Setra pulang ke Pajajaran.
Setibanya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu dengan Sayyidina Ali hingga masuk Islam. Kini dia percaya kalimah Bismillah dan syahadat sangat hebat faedahnya. Karena itu dia berharap ayahandanya masuk Islam juga.
Mendengar kehebatan Sayyidina Ali, Prabu Siliwangi sangat kagum dan tidak keberatan anaknya, Raden Kiansantang, memeluk Islam jika memang dia suka. Tapi, bagi dirinya tidak mungkin meninggalkan agama Hinda yang sejak puluhan tahun dianutnya.
Betapa kecewa hati Kiansantang karena ayahnya menolak masuk Islam. Padahal menurutnya, Islam-lah agama yang benar. Dengan susah payah, dia membujuk ayahnya. Tapi tiada hasilnya. Prabu Siliwangi tetap memuja dewa. Hal ini membuatnya sadar, bahwa pengetahuannya tentang Islam masih sedikit sekali dan belum memahami cara-cara dakwah.
Akhirnya dia kembali ke Mekkah untuk belajar Islam lebih mendalam. Setelah tujuh tahun bermukim di sana, Prabu Kiansantang pulang lagi ke Pajajaran bersama dengan saudagar Arab. Saudagar itu bertujuan untuk berdagang di Pajajaran sambil membantu Kiansantang menyebarkan Islam.
Dengan bantuan para saudagar, Kiansantang menyebarkan Islam di kalangan masyarakat. Rencananya dia juga akan menyebarkan Islam di kalangan istana, terutama mengislamkan ayahandanya.
Prabu Siliwangi tahu akan kegiatan dakwah anaknya dan tidak keberatan rakyatnya masuk Islam. Tapi dia sendiri tidak mau ikut-ikutan. Baginya lebih baik meninggalkan keraton dari pada menuruti bujukan anaknya. Maka ketika Prabu Kiansantang dalam perjalanan menuju keraton, dengan kesatiannya Prabu Siliwangi menyulap keraton menjadi hutan belantara. Kemudian dia dan para pengiringnya pergi meninggalkannya.
Bukan main kagetnya Kiansantang, ketika sampai di wilayah keraton Pajajaran. Tidak ada seorangpun terlihat di sana. Yang tampak baginya hanya pohon-pohon tinggi dan semak belukar. Padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, di sanalah keraton Pajajaran berdiri.
Tapi, mengapa tiba-tiba lenyap dan kemana ayah dan semua pengiringnya? Sungguh membingungkan!
Kiansantang bukan orang yang mudah putus asa. Dia terus mencari di mana ayahanda dan para pengiringnya bersembunyi sambil berdoa kepada Allah. Akhirnya dengan pertolonganNya, dia melihat ayahanda dan pengiringnya keluar dari hutan.
Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahnya, “Wahai Ayahanda, mengapa Ayahanda tinggal di hutan? Padahal Ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama yang dirihoi Allah.”
Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan puteranya. Malah dia balik bertanya, “Wahai Ananda, apa yang pantas tinggal di hutan?”
“Ayahanda, yang pantas tinggal di hutan adalah harimau!” Jawab Kiansantang.
Konon, tiba-tiba Prabu Siliwangi dan semua pengiringnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau atau maung dalam Bahasa Sunda. Ingin sekali dia mencabut kata-katanya tersebut. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kata-katanya mustahil ditarik kembali. Kini ayahandanya dan orang-orang yang setia padanya tela berganti wujud menjadi harimau.
Walaupun Prabu Siliwangi dan para pengikutnya telah berubah menjadi harimau, namun Kian Santang masih terus berbicara dengan santun pada mereka. Karena dia menganggap, mereka bukan harimau sesungguhnya, tapi hanya maung jejadian. Tekadnya tetap bulat, ingin mengajak mereka masuk Islam.
Namun, rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang jalan lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang, usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk kedalam goa yang kini terkenal dengan Goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di Kabupaten Garut.
***
Setelah tidak berhasil mengislamkan ayahnya, Kiansantang pulang kembali ke keraton Pajajaran di Bogor. Dia biarkan ayah dan semua pengiringnya bersembunyi di Goa Sancang. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seseorang yang katanya sedang mencari-cari dirinya.
Orang itu mengaku ingin masuk Islam. Tentu saja ini membuatnya sangat gembira. Ternyata ada orang yang dengan sukarela sudi masuk agama Allah. Maka dia pun membimbing orang asing itu mengucapkan dua kalimah syahadat.
Kiansantang mengajarkan bahwa Islam itu sangat memperhatikan kebersihan. Bahkan kebersihan itu bagian dari iman. Karena itu, seorang muslim harus selalu membersihkan dirinya, baik kebersihan lahir maupun batin. Salah satu bagian tubuh yang harus dibersihkan adalah kemaluan.
Jika kemaluan tidak bersih dari najis, maka tidak syah shalatnya. Sedangkan dzakar sulit dibersihkan karena ada kuncupnya. Supaya gampang dibersihkan, maka kuncupnya harus dibuang. Akhirnya orang yang baru masuk Islam itupun mau dikhitan.
Acara khitanan dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, tanpa resepsi dan yang mengkhitan pun Kiansantang sendiri. Mungkin karena terlalu gembira dan belum banyak pengalaman, Kiansantang gugup ketika mengkhitan, sehingga bukan hanya kuncupnya yang terpotong, tapi juga batang dzakarnya. Akibatnya orang itu mati. Mungkin karena kehabisan darah.
***
Pada tahun 1400 M, Prabu Kiansantang diangkat menjadi raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati (Prabu Anapakem I). Ketika itu, usianya delapan puluh lima tahun. Namun tidak lama kemudian, dia melepaskan jabatannya. Tahta kerajaan dia serahkan pada Prabu Panatayuda, putera sulung Munding Kawati.
Memang, sejak dulu Kiansantang kurang tertarik dengan jabatan dan kekuasaan. Awalnya memang dia mendalami berbagai ilmu kanuragan. Tentu saja ini ada hubungannya dengan kekuasaan. Sebab, jika ingin berkuasa waktu itu, orang harus sakti. Namun setelah bertemu dengan Sayidina Ali, dia lebih suka mendalami agama Islam dan menyebarkannya ke seluruh penjuru tanah Pasundan. Apalagi kini usianya sudah lanjut.
Seperti sufi pada umumnya, fase perjalanan hidup diakhiri dengan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Konsentrasi pikiran hanya tertuju padaNya. Dia hindari segala perkara yang dapat memalingkan hati pada selain Yang Di Atas. Untuk itu dia memilih uzlah, menjauhi keramaian dan gemerlap kehidupan istana.
Dikisahkan, seusai serah terima jabatan, Kiansantang pergi mencari tempat sepi dengan membawa sebuah peti. Mula-mula pergi menuju Gunung Ciremai yang cukup tingig dan hawanya sangat dingin. Setelah sampai di sana, peti itu diletakkan di atas tanah. Ternyata si peti diam saja, tidak godeg (bergoyang). Ini tanda bahwa tempat itu tidak cocok untuk dihuni.
Kemudian, Kiansantang meninggalkan tempat itu dan pergi ke arah barat menuju Tasikmalaya. Sesampainya di sebuah gunung, dia letakkan lagi peti tersebut. Ternyata si peti diam juga, tidak memberi isyarat bagus. Maka tempat itu pun dia tinggalkan.
Akhirnya, dia kembali pergi menuju arah utara, ke wilayah Garut. Ketika sampai di sebuah gunung, diletakkanlah peti petunjuk itu di atas tanah. Tiba-tiba si peti godeg alias bergoyang-goyang. Ini pertanda tempat itu baik untuk dihuni. Maka disitulah Kiansantang tinggal hingga wafatnya setelah bertafakur selama sembilan belas tahun.
Kiansantang wafat tahun 1419, dalam usia seratus enam tahun dan dimakamkan di sana. Kini tempat itu terkenal sebagai Makam Keramat Godog atau Makam Sunan Rohmat Suci. Sekitar satu kilo meter dari tempat ini berdirilah Masjid Pusaka Keramat Godog yang konon dibangun Kiansantang semasa uzlah. Dua tempat itu menjadi bukti adanya wali yang berasal dari keluarga raja Pajajaran.
Mengenai tokoh yang disebutkan sebagai Sayidan Ali dalam cerita ini, memang sedikit kontroversial. Mengingat kejadian, apakah mungkin yang dimaksud Sayidina Ali di sini adalah Ali Bin Abi Tholib RA, khalifah keempat dalam jajaran Khulafaur Rasyidin? Ataukah yang dimaksudkan adalah tokoh Sayidina Ali yang lain, mengingat angka tahun kejadian yang terpaut sangat jauh dengan masa kehidupan Sayidina Ali Bin Abi Tholib RA? Wallahu’alam.
PADJAJARAN BUKAN KERAJAAN HINDU, URANG SUNDA TIDAK PERNAH MENGANUT AGAMA HINDU ATAU BUDHA ATAU LAINNYA.
BalasHapuskalo pajajaran bukan kerajaan hindu, bukan budha, bukan islam. berarti kerajaan JIN dong bang...??? emang alur cerita yg benar itu yg bagaimana yah. sbg sejarawan yg usianya sangat tua dan berpengalaman.. mohon di luruskan kisahnya dan di komplen ke pemerintah RI jika ada catatan sejarah nusantara yg tidak benar. terutama soal pajajaran, prabu siliwangi dan kian santang.
Hapusmaaf saya nulisnya pakai huruf kecil.
saya tidak biasa sih nulis huruf besar semua.
ADA ALUR CERITA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK BENAR.. TOLONG AGAR DIREVISI KEMBALI.. BAIKNYA LANGSUNG KE "PAJAJARAN".. PERCAYA TIDAK PERCAYA PAJAJARAN MASIH ADA...
BalasHapusBener banget bang. Pajajaran mah masih ada sampe sekarang. muridnya aja banyak. sodara saya juga kuliah disana.
Hapussekarang mahal ya kang bayarnyaa...aduuh saya aja gak kesampean mau kuliah di pajajaran kang. maklum urang miskinnn...
tolong dong critay yg bner2 ssuwai agar msyarkt bsa tw,msa siliwangi jd hrimau
Hapusmaaf, cerita tersebut diatas tidak benar :
BalasHapus1. Bukan Agama Hindu atau Budha yang di anut rakyat tatar pasundan khususnya pajajaran.
2. Eyang Prabu Kian Santang mendengar bahwa ada panglima perang sakti yaitu Saidina Ali RA.
3. Eyang Prabu Siliwangi Moksa karena Sabdanya sendiri 'SUPATA'.
Engke mun geus nepi ka uga na, sajarah URANG SUNDA bakal bray deui.
BalasHapus1. Sejarah SUNDA yang ada dalam pelajaran sekarang adalah hasil kreasi orang selain SUNDA.
Tapi sejarahwan adalah orang2 yang mencari kebenaran sejati.
Pertanyaan untuk Anonim 14 MARET 2010 19:21
1. Bagaimana anjeun punya pemikiran yang sama bahwa agama urang SUNDA sanes hindu, buda, jeung sabajana ?
Resep ningali se'eur barudak ngora jiga Icha nu ngorek2 sajarah SUNDA. "GALI SEJARAH TEMUKAN KEBENARAN"
jangan ragu dengan Saidina Ali bin Abu Thalib, RA. yang mana, pasti yg dimaksud adalah sahabat Rosul.Mengapa demikian dalam ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu yang memiliki sifat karamah, tidak ada batas penghalang waktu dan tempat, ghaib dan nyata, manusia boleh ingkar atau taat, tidak semua manusia harus terlibat dengan karamah, tetapi dengan syariat manusia muslim hukumnya Wajib. Kita tidak baik memperdebatkan jika tdk sanggup, cukup kami dengar kami taat,
BalasHapusTh 1315 M kn Prabu Siliwangi( Raden Pemanahrasa ) Belum lahir,masa duluan anaknya Prabu Kian santang.....
BalasHapusSedangkan Prabu siliwangi lahir Th 1400 an( Keraton Kanoman Cirebon)dan mempunyai 3 anak :
1. R.Walangsungsang / Pangeran Cakrabuana
2. Rara Santang / Syarifah Mudaim
3. Pangeran Sangara
menurut yang saya tau, Prabu Kian santang itu Putranya Prabu Siliwangi I ( Niskala Wastu Kancana ) yg lahir sekitar 1200 - 1300 an dan tilem di Sancang Garut dan benar sesuai saudara tresfau katakan..soalnya waktu dlu saya pernah mendengar dan Melihat Kitab yg memakai Aksara Arab berbahasa sunda buhun dan dikarang Th 1700 oleh Ulama djaman itu,waktuitupun kondisi kitabnya sudah rusak n lusuh,tp intinya menambah Keyakinan dan Ketauhidan kepada ALLOH SWT.....
Ada baik nya kirim tawasul dulu sebelum bikin tulisan, mohon kepada allah atau restu dr pada yg msh keturunan nya
BalasHapusapakah cerita tersebut benar?
BalasHapuskalaupun tidak benar trus yg benar seperti apa tolong di ceritakan karna sya sngat penasaran dengan kisah raden kian santang dan sya memang sedang mempelajari tentang sejarah dari raden kian santang
trimakasih.............
kerajaan pajajaran beruntung punya raja yang hebat,berwibawa,bertanggung jawab
BalasHapusbagus banget kisah sejarah kian santang jadi tambah ilmu nih
BalasHapuspunten ka sadayana nu tos komentar,pajajaran ka pungkurna emang agamana hindu,sa teu acan na agama islam lebet ka ka pajajaran,upami akang-akang asli sunda engkin oge ka pendak sajarah nu sabenerna..
BalasHapushatur nuhun.
saya masih bingung tentang cerita pajajaran, terlalu banyak versi yg saya sudah baca.. saya sangat antusias dengan cerita pajajaran tapi sayang refisi.a kompleks dengan versi yang berbeda, harus kemana saya menggali sejarah pajajaran yang valid..
BalasHapusKalau aku sih lebih enak menikmati Sinetron Raden Kian Santang di MNC-TV, disana banyak nasihat2 yang bermanfaat, bukan sekedar tontonan tetapi juga tuntunan. daripada sinetron-sinetron yang lain yang banyak merusak moral bangsa.
BalasHapuskl saya pikir memang bisa mengenal sejarah dengan cerita itu, tapi yang saya kurang suka film itu terlalu banyak iklah dan siaranya sering di ulang-ulang, baru main 2 menit dah iklan lagi...capek deh....
BalasHapusya, saya suka kian santang dan alwi nya ( pemerannya )...
BalasHapusogut juga suka
BalasHapusLaa Mahalla Lahaa Minal AjrOn Hasanaa.. .
BalasHapusWa Lakin,
Laa Ba'sa bihaa.. .
Candak nu kahartosna..taroskeun k nu ahli nu teu kahartosna..
BalasHapusraden kian santang pny keturunan ga?
BalasHapuscpa ajj yg msuk silsilah.a
NUBENER MAH NU MAHA KUASA WEH ATUH URANG SERAH KEN KANU KEPERCAYAAN MASING-MASIN OK.,.,.,.,.,.,.,,.,.,,,.
BalasHapuskatanya perabu siliwangi masuk islam di garut ko disini gax di ceritakan
BalasHapusnu bener mah sejarah na,..nu carita mah teuing bener teuing heunteu',...ualah percaya kanu ngomong 'katanya'..caritana jeung,..teangan sorangan..
BalasHapuscerita'a sedikit bener tp prabu siliwangi bukan jadi maung dia lari masuk ke alam jin menjadi raja di sana, bersama pengikut'a, prabu siliwangi pertama'a masuk islam entah kenapa dia pindah agama lagi .... maka dia lari ke alam jin,,, parabu siliwangi sempat berdakwah di jawa barat,
BalasHapusSyeikh Quro dan Syeik Syarif..karawang cirebon yah... Seru bwt disimak... berbicara sejarah harus dengan bukti sejarahnya... Bukti sejarah itu menujukan bahwa masa itu pernah ada...
BalasHapusالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Semua ntong ribut saya yang keturunan kiansntang aja cuma diam aja aku ksh saran boleh ngomongin leluhur sy tp dngan baik jangan asl ngomong krna اَللّهُ maha tau
BalasHapus