Prabu Kian Santang Wali Keturunan Pajajaran

Waliyullah yang berarti kekasih Allah, memang tersebar dimana-mana. Tak terkecuali pula di Jawa Barat yang sebagian besar penduduknya bersuku Sunda. Di beberapa tempat di Jawa Barat, sebenarnya banyak makam yang ramai diziarahi, terutama pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya adalah makam Sunan Rahmat Suci yang berdiri di sebuah bukit di wilayah Garut. Menurut keterangan juru kunci makam ini, Sunan Rahmat Suci adalah wali yang masih keturunan Pajajaran.

Seperti diketahui, Pajajaran merupakan kerajaan Hindu terbesar di Jawa Barat. Tidak begitu jelas siapa pendiri dan kapan berdirinya. Namun lokasinya diketahui di Bogor sekarang. Raja-raja yang pernah berkuasa di antaranya, adalah: Prabu Lingga Raja Kencana, Prabu Wastu Kencana, dan Prabu Siliwangi.

Di antara raja-raja tersebut yang paling termasyhur adalah Prabu Siliwangi. Raja yang terkenal amat bijaksana ini beristerikan seorang puteri bernama Dewi Kumalawangi. Dari rahim isterinya ini lahirlah tiga orang putera, yaitu: Raden Walangsungsang, Dewi Rarasantang, dan Raden Kiansantang.

Prabu Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap. Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kiansatang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua.

Konon, Raden Kiansantang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang kesatria sejati, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.

Diriwayatkan, Prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal dia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon pada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

Untuk memenuhi permintaan puteranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan puteranya, Prabu Kiansantang.

Usaha tersbut hanya sia-sia saja. Tak seorangpun di antara para ahli nujum itu yang bisa menunjukkan orang yang mampu menunjukkan di mana gerangan orang yang bisa mengalahkan Raden Kiansanteng. Seluruh yang hadir di keraton hanya bingung.

Untunglah, kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari. Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di Tanah Suci Mekkah. Jauh sekali dari tanah Pasundan. Namanya Sayyidina Ali.

“Aku ingin bertemu dengannya?” Tukas Raden Kiansantang.

“Untuk bisa bertemu denganya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.

Syarat-syarat tersebut, adalah: Pertama, harus mujasmedi dahulu di ujung kulon, atau ujung Barat tanah Pasundan. Kedua, harus berganti nama menjadi Galantrang Setra Galantrang artinya berani dan Setra artinya suci. Mungkin maksudnya keberanian bertarung harus dilandasi kesucian hati.

Bukan main gembiranya Prabu Kiansantang mendengar kabar ini. Begitu pula semua yang hadir waktu itu. Suasana hening berubah menjadi cair kembali. Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Prabu Kiansantang memakai nama baru, Galantrang Setra. Setelah itu dia pergi ke ujung kulon untuk mujasmedi agar Sang Hyang Widhi Wasa memberikan kekuatan lahir dan batin serta mempertemukan dirinya dengan orang yang disebut sebagai Sayyidina Ali.

Setelah selesai mujasmedi, Galantrang Setra meninggalkan Pajajaran menuju Tanah Mekkah dengan membawa bekal secukupnya. Hatinya tak sabar lagi ingin bertemu Sayyidina Ali. Sepanjang perjalanan dia membayangkan pertarungan hebat antara dirinya dengan orang Mekkah tersebut.

Terbesit juga dalam pikirannya bahwa akhirnya dialah yang menang. Dengan begitu maka dia akan dikenal sebagai pendekar pinunjul di seluruh jagat, bukan hanya di tanah Pasundan.

***



Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke tanah Arab. Yang pasti, sesampainya di tanah Mekkah, dia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah. Badannya tegap dan suaranya berwibawa. Kepada orang itu dia bertanya, “Apakah Anda kenal dengan Sayyidina Ali?”

“Oh, kenal sekali!” Jawabnya dengan ramah.

“Bisakah Anda mengantar saya ke rumahnya?” Tanya Galantrang sekali lagi.

“Oh bisa, tentu bisa!”

Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka berdua melangkahkan kaki menuju rumah Sayyidina Ali. Semakin jauh melangkah detak jantung Galantrang Setra terasa makin cepat. Pertarungan tidak lama lagi terjadi, pikirnya.

Baru saja beberapa puluh meter melangkah, tiba-tiba lelaki itu mengantarnya berhenti sambil menengok ke belakang.

“Galantrang, tongkatku ketinggalan. Tolong ambilkan !” Katanya.

Galantrang menolak. Pantang baginya disuruh-suruh orang. Apalagi oleh orang Mekkah yang baru dia kenal.

“Kalau kamu tidak mau mengambilkan tongkatku, maka aku tidak akan mengantarmu ke tempat Sayyidina Ali,” ancam orang Mekkah itu.

Maka terpaksa Galantrang menuruti perintahnya. Tentu saja hatinya menggerutu. Ketika sampai di tempat yang dimaksud Galantrang mencabut tongkat itu dengan tangan kiri. Dikiranya ringan, karena tertancap ditumpukan pasir. Ternyata sulit dicabut. Kemudian dia mengambilnya dengan tangan kanan. Masih juga tak bisa dicabut.

Akhirnya dengan kedua tangan. Aneh, sama sekali tongkat itu tak dapat digerakkan. Galantrang penasaran. Dicobanya sekali lagi dengan mengerahkan seluruh kekuatan lahir dan batinnya. Apa yang terjadi? Tongkat tetap tidak tercabut, malah kedua kakinya amblas terperosok ke dalam hamparan padang pasir.

Tapi, sebagai jawara dia pantang menyerah. Namun, setelah sekian lama mengerahkan seluruh tenaga dan terus menerus membaca mantera, kakinya malah makin amblas. Bahkan, keluar darah dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Ketika itu, Galantrang tercengang melihat darahnya sendiri. Tiba-tiba orang Mekkah itu datang menghampiri. Dengan membaca Bismillahi dia mencabut tongkatnya dengan mudah. Bersamaan dengan itu, hilang pula darah di sekujur tubuh Galantrang.

Sungguh sangat menakjubkan. Galantrang kagum pada kehebatan kalimah yang dibaca si pemilik tongkat. Dia ingin sekali hafal mantera tersebut untuk menambah kesaktiannya. Jika nanti bertarung dengan Sayyidina Ali, mantera itu akan dibacakan olehnya. Pasti dia menang, pikirnya. Maka dia minta diajari membacanya. Tapi orang Arab itu menolak mengajarinya, karena Galantrang belum masuk Islam.

Mereka terus berjalan menuju rumah Sayyidina Ali. Di tengah perjalanan ada seorang bertanya, “Kenapa kamu terlambat pulang Ali?”

Mendengar nama Ali disebut, Galantrang amat terkejut. Dia tak menduga sama sekali, bahwa orang yang sedang bersamanya adalah Sayyidina Ali. Mendadak muncul pikiran, bagaimana mungkin dirinya dapat mengalahkan Sayyidin Alu, sedangkan mencabut tongkatnya saja sampai berkeringat darah.

Rasa takut dan malu bercampur jadi satu. Keberanian Galantrang hilang sirna. Seluruh ilmu kanuragan yang selama ini jadi kebanggaannya lenyap seketika. Mungkin lebih baik pulang saja, pikirnya. Tak ada gunanya berlama-lama di Mekkah. Enggan baginya bertemu lagi dengan Sayyidina Ali.

Namun ketika dalam perjalanan pulang dia bingung tak tahu jalan. Langkah kakinya tak tentu arah. Seperti ada kekuatan yang menghalanginya pulang. Di sela-sela istirahat melepas lelah, dia teringat pada mantera yang diucapkan Sayyidina Ali. Betapa hebatnya mantera itu, pikirnya.

“Kau harus masuk Islam!” Suara ini terngiang-ngiang di telinganya. Ya, dia harus masuk Islam jika ingin diajari kalimah sakti itu. Padahal, selama ini, dia menganut agama Hindu, memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Bagaimana pula dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi, jika tahu dia meninggalkan agama leluhurnya?

Akhirya dia memutuskan bersedia masuk Islam demi memiliki ilmu linuwih. Karena itu, dia kembali menemui Sayyidina Ali. Di sana dia dibimbing mengucapkan dua kalimah syahadat. Juga dibimbing mengucapkan basmallah, “Bismillahir rahmanir rahim”.

Selain kalimah-kalimah tadi, banyak lagi kalimah-kalimah lain yang dia hafalkan selama dia mukim di Mekkah. Konon, setelah dua puluh hari belajar agama Islam Galantrang Setra pulang ke Pajajaran.

Setibanya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu dengan Sayyidina Ali hingga masuk Islam. Kini dia percaya kalimah Bismillah dan syahadat sangat hebat faedahnya. Karena itu dia berharap ayahandanya masuk Islam juga.

Mendengar kehebatan Sayyidina Ali, Prabu Siliwangi sangat kagum dan tidak keberatan anaknya, Raden Kiansantang, memeluk Islam jika memang dia suka. Tapi, bagi dirinya tidak mungkin meninggalkan agama Hinda yang sejak puluhan tahun dianutnya.

Betapa kecewa hati Kiansantang karena ayahnya menolak masuk Islam. Padahal menurutnya, Islam-lah agama yang benar. Dengan susah payah, dia membujuk ayahnya. Tapi tiada hasilnya. Prabu Siliwangi tetap memuja dewa. Hal ini membuatnya sadar, bahwa pengetahuannya tentang Islam masih sedikit sekali dan belum memahami cara-cara dakwah.

Akhirnya dia kembali ke Mekkah untuk belajar Islam lebih mendalam. Setelah tujuh tahun bermukim di sana, Prabu Kiansantang pulang lagi ke Pajajaran bersama dengan saudagar Arab. Saudagar itu bertujuan untuk berdagang di Pajajaran sambil membantu Kiansantang menyebarkan Islam.

Dengan bantuan para saudagar, Kiansantang menyebarkan Islam di kalangan masyarakat. Rencananya dia juga akan menyebarkan Islam di kalangan istana, terutama mengislamkan ayahandanya.

Prabu Siliwangi tahu akan kegiatan dakwah anaknya dan tidak keberatan rakyatnya masuk Islam. Tapi dia sendiri tidak mau ikut-ikutan. Baginya lebih baik meninggalkan keraton dari pada menuruti bujukan anaknya. Maka ketika Prabu Kiansantang dalam perjalanan menuju keraton, dengan kesatiannya Prabu Siliwangi menyulap keraton menjadi hutan belantara. Kemudian dia dan para pengiringnya pergi meninggalkannya.

Bukan main kagetnya Kiansantang, ketika sampai di wilayah keraton Pajajaran. Tidak ada seorangpun terlihat di sana. Yang tampak baginya hanya pohon-pohon tinggi dan semak belukar. Padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, di sanalah keraton Pajajaran berdiri.

Tapi, mengapa tiba-tiba lenyap dan kemana ayah dan semua pengiringnya? Sungguh membingungkan!

Kiansantang bukan orang yang mudah putus asa. Dia terus mencari di mana ayahanda dan para pengiringnya bersembunyi sambil berdoa kepada Allah. Akhirnya dengan pertolonganNya, dia melihat ayahanda dan pengiringnya keluar dari hutan.

Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahnya, “Wahai Ayahanda, mengapa Ayahanda tinggal di hutan? Padahal Ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama yang dirihoi Allah.”

Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan puteranya. Malah dia balik bertanya, “Wahai Ananda, apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Ayahanda, yang pantas tinggal di hutan adalah harimau!” Jawab Kiansantang.

Konon, tiba-tiba Prabu Siliwangi dan semua pengiringnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau atau maung dalam Bahasa Sunda. Ingin sekali dia mencabut kata-katanya tersebut. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kata-katanya mustahil ditarik kembali. Kini ayahandanya dan orang-orang yang setia padanya tela berganti wujud menjadi harimau.

Walaupun Prabu Siliwangi dan para pengikutnya telah berubah menjadi harimau, namun Kian Santang masih terus berbicara dengan santun pada mereka. Karena dia menganggap, mereka bukan harimau sesungguhnya, tapi hanya maung jejadian. Tekadnya tetap bulat, ingin mengajak mereka masuk Islam.

Namun, rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang jalan lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang, usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk kedalam goa yang kini terkenal dengan Goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di Kabupaten Garut.

***



Setelah tidak berhasil mengislamkan ayahnya, Kiansantang pulang kembali ke keraton Pajajaran di Bogor. Dia biarkan ayah dan semua pengiringnya bersembunyi di Goa Sancang. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seseorang yang katanya sedang mencari-cari dirinya.

Orang itu mengaku ingin masuk Islam. Tentu saja ini membuatnya sangat gembira. Ternyata ada orang yang dengan sukarela sudi masuk agama Allah. Maka dia pun membimbing orang asing itu mengucapkan dua kalimah syahadat.

Kiansantang mengajarkan bahwa Islam itu sangat memperhatikan kebersihan. Bahkan kebersihan itu bagian dari iman. Karena itu, seorang muslim harus selalu membersihkan dirinya, baik kebersihan lahir maupun batin. Salah satu bagian tubuh yang harus dibersihkan adalah kemaluan.

Jika kemaluan tidak bersih dari najis, maka tidak syah shalatnya. Sedangkan dzakar sulit dibersihkan karena ada kuncupnya. Supaya gampang dibersihkan, maka kuncupnya harus dibuang. Akhirnya orang yang baru masuk Islam itupun mau dikhitan.

Acara khitanan dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, tanpa resepsi dan yang mengkhitan pun Kiansantang sendiri. Mungkin karena terlalu gembira dan belum banyak pengalaman, Kiansantang gugup ketika mengkhitan, sehingga bukan hanya kuncupnya yang terpotong, tapi juga batang dzakarnya. Akibatnya orang itu mati. Mungkin karena kehabisan darah.

***



Pada tahun 1400 M, Prabu Kiansantang diangkat menjadi raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati (Prabu Anapakem I). Ketika itu, usianya delapan puluh lima tahun. Namun tidak lama kemudian, dia melepaskan jabatannya. Tahta kerajaan dia serahkan pada Prabu Panatayuda, putera sulung Munding Kawati.

Memang, sejak dulu Kiansantang kurang tertarik dengan jabatan dan kekuasaan. Awalnya memang dia mendalami berbagai ilmu kanuragan. Tentu saja ini ada hubungannya dengan kekuasaan. Sebab, jika ingin berkuasa waktu itu, orang harus sakti. Namun setelah bertemu dengan Sayidina Ali, dia lebih suka mendalami agama Islam dan menyebarkannya ke seluruh penjuru tanah Pasundan. Apalagi kini usianya sudah lanjut.

Seperti sufi pada umumnya, fase perjalanan hidup diakhiri dengan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Konsentrasi pikiran hanya tertuju padaNya. Dia hindari segala perkara yang dapat memalingkan hati pada selain Yang Di Atas. Untuk itu dia memilih uzlah, menjauhi keramaian dan gemerlap kehidupan istana.

Dikisahkan, seusai serah terima jabatan, Kiansantang pergi mencari tempat sepi dengan membawa sebuah peti. Mula-mula pergi menuju Gunung Ciremai yang cukup tingig dan hawanya sangat dingin. Setelah sampai di sana, peti itu diletakkan di atas tanah. Ternyata si peti diam saja, tidak godeg (bergoyang). Ini tanda bahwa tempat itu tidak cocok untuk dihuni.

Kemudian, Kiansantang meninggalkan tempat itu dan pergi ke arah barat menuju Tasikmalaya. Sesampainya di sebuah gunung, dia letakkan lagi peti tersebut. Ternyata si peti diam juga, tidak memberi isyarat bagus. Maka tempat itu pun dia tinggalkan.

Akhirnya, dia kembali pergi menuju arah utara, ke wilayah Garut. Ketika sampai di sebuah gunung, diletakkanlah peti petunjuk itu di atas tanah. Tiba-tiba si peti godeg alias bergoyang-goyang. Ini pertanda tempat itu baik untuk dihuni. Maka disitulah Kiansantang tinggal hingga wafatnya setelah bertafakur selama sembilan belas tahun.

Kiansantang wafat tahun 1419, dalam usia seratus enam tahun dan dimakamkan di sana. Kini tempat itu terkenal sebagai Makam Keramat Godog atau Makam Sunan Rohmat Suci. Sekitar satu kilo meter dari tempat ini berdirilah Masjid Pusaka Keramat Godog yang konon dibangun Kiansantang semasa uzlah. Dua tempat itu menjadi bukti adanya wali yang berasal dari keluarga raja Pajajaran.

Mengenai tokoh yang disebutkan sebagai Sayidan Ali dalam cerita ini, memang sedikit kontroversial. Mengingat kejadian, apakah mungkin yang dimaksud Sayidina Ali di sini adalah Ali Bin Abi Tholib RA, khalifah keempat dalam jajaran Khulafaur Rasyidin? Ataukah yang dimaksudkan adalah tokoh Sayidina Ali yang lain, mengingat angka tahun kejadian yang terpaut sangat jauh dengan masa kehidupan Sayidina Ali Bin Abi Tholib RA? Wallahu’alam.

64 komentar:

  1. PADJAJARAN BUKAN KERAJAAN HINDU, URANG SUNDA TIDAK PERNAH MENGANUT AGAMA HINDU ATAU BUDHA ATAU LAINNYA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo pajajaran bukan kerajaan hindu, bukan budha, bukan islam. berarti kerajaan JIN dong bang...??? emang alur cerita yg benar itu yg bagaimana yah. sbg sejarawan yg usianya sangat tua dan berpengalaman.. mohon di luruskan kisahnya dan di komplen ke pemerintah RI jika ada catatan sejarah nusantara yg tidak benar. terutama soal pajajaran, prabu siliwangi dan kian santang.

      maaf saya nulisnya pakai huruf kecil.
      saya tidak biasa sih nulis huruf besar semua.

      Hapus
    2. orang islam yang 'pengetahuannya ' rendah memang kebanyakan sombong ...
      dan semua mau di kasih label Islam .... sampai borobudur pun katanya buatan islam .....

      sementara orang Islam yang "ilmu & pengatahuan" nya tinggi ... akan banyak 'Istiqfar' melihat kenyataan banyak umat Islam yang masih rendah pengetahuannya ...

      Hapus
  2. ADA ALUR CERITA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK BENAR.. TOLONG AGAR DIREVISI KEMBALI.. BAIKNYA LANGSUNG KE "PAJAJARAN".. PERCAYA TIDAK PERCAYA PAJAJARAN MASIH ADA...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget bang. Pajajaran mah masih ada sampe sekarang. muridnya aja banyak. sodara saya juga kuliah disana.

      sekarang mahal ya kang bayarnyaa...aduuh saya aja gak kesampean mau kuliah di pajajaran kang. maklum urang miskinnn...

      Hapus
    2. tolong dong critay yg bner2 ssuwai agar msyarkt bsa tw,msa siliwangi jd hrimau

      Hapus
  3. maaf, cerita tersebut diatas tidak benar :
    1. Bukan Agama Hindu atau Budha yang di anut rakyat tatar pasundan khususnya pajajaran.
    2. Eyang Prabu Kian Santang mendengar bahwa ada panglima perang sakti yaitu Saidina Ali RA.
    3. Eyang Prabu Siliwangi Moksa karena Sabdanya sendiri 'SUPATA'.

    BalasHapus
  4. Engke mun geus nepi ka uga na, sajarah URANG SUNDA bakal bray deui.

    1. Sejarah SUNDA yang ada dalam pelajaran sekarang adalah hasil kreasi orang selain SUNDA.

    Tapi sejarahwan adalah orang2 yang mencari kebenaran sejati.

    Pertanyaan untuk Anonim 14 MARET 2010 19:21
    1. Bagaimana anjeun punya pemikiran yang sama bahwa agama urang SUNDA sanes hindu, buda, jeung sabajana ?

    Resep ningali se'eur barudak ngora jiga Icha nu ngorek2 sajarah SUNDA. "GALI SEJARAH TEMUKAN KEBENARAN"

    BalasHapus
  5. jangan ragu dengan Saidina Ali bin Abu Thalib, RA. yang mana, pasti yg dimaksud adalah sahabat Rosul.Mengapa demikian dalam ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu yang memiliki sifat karamah, tidak ada batas penghalang waktu dan tempat, ghaib dan nyata, manusia boleh ingkar atau taat, tidak semua manusia harus terlibat dengan karamah, tetapi dengan syariat manusia muslim hukumnya Wajib. Kita tidak baik memperdebatkan jika tdk sanggup, cukup kami dengar kami taat,

    BalasHapus
  6. Th 1315 M kn Prabu Siliwangi( Raden Pemanahrasa ) Belum lahir,masa duluan anaknya Prabu Kian santang.....
    Sedangkan Prabu siliwangi lahir Th 1400 an( Keraton Kanoman Cirebon)dan mempunyai 3 anak :
    1. R.Walangsungsang / Pangeran Cakrabuana
    2. Rara Santang / Syarifah Mudaim
    3. Pangeran Sangara

    menurut yang saya tau, Prabu Kian santang itu Putranya Prabu Siliwangi I ( Niskala Wastu Kancana ) yg lahir sekitar 1200 - 1300 an dan tilem di Sancang Garut dan benar sesuai saudara tresfau katakan..soalnya waktu dlu saya pernah mendengar dan Melihat Kitab yg memakai Aksara Arab berbahasa sunda buhun dan dikarang Th 1700 oleh Ulama djaman itu,waktuitupun kondisi kitabnya sudah rusak n lusuh,tp intinya menambah Keyakinan dan Ketauhidan kepada ALLOH SWT.....

    BalasHapus
  7. subur oeking4 Juni 2012 13.53

    Ada baik nya kirim tawasul dulu sebelum bikin tulisan, mohon kepada allah atau restu dr pada yg msh keturunan nya

    BalasHapus
  8. herry santoso18 Juni 2012 22.31

    apakah cerita tersebut benar?
    kalaupun tidak benar trus yg benar seperti apa tolong di ceritakan karna sya sngat penasaran dengan kisah raden kian santang dan sya memang sedang mempelajari tentang sejarah dari raden kian santang

    trimakasih.............

    BalasHapus
  9. kerajaan pajajaran beruntung punya raja yang hebat,berwibawa,bertanggung jawab

    BalasHapus
  10. bagus banget kisah sejarah kian santang jadi tambah ilmu nih

    BalasHapus
  11. punten ka sadayana nu tos komentar,pajajaran ka pungkurna emang agamana hindu,sa teu acan na agama islam lebet ka ka pajajaran,upami akang-akang asli sunda engkin oge ka pendak sajarah nu sabenerna..
    hatur nuhun.

    BalasHapus
  12. saya masih bingung tentang cerita pajajaran, terlalu banyak versi yg saya sudah baca.. saya sangat antusias dengan cerita pajajaran tapi sayang refisi.a kompleks dengan versi yang berbeda, harus kemana saya menggali sejarah pajajaran yang valid..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ari raden kian santang di teangan!!!! ari diri sorangan pabaliut solat teu nyinghareup ka allah hare hare

      Hapus
  13. Kalau aku sih lebih enak menikmati Sinetron Raden Kian Santang di MNC-TV, disana banyak nasihat2 yang bermanfaat, bukan sekedar tontonan tetapi juga tuntunan. daripada sinetron-sinetron yang lain yang banyak merusak moral bangsa.

    BalasHapus
  14. kl saya pikir memang bisa mengenal sejarah dengan cerita itu, tapi yang saya kurang suka film itu terlalu banyak iklah dan siaranya sering di ulang-ulang, baru main 2 menit dah iklan lagi...capek deh....

    BalasHapus
  15. ya, saya suka kian santang dan alwi nya ( pemerannya )...

    BalasHapus
  16. Laa Mahalla Lahaa Minal AjrOn Hasanaa.. .
    Wa Lakin,
    Laa Ba'sa bihaa.. .

    BalasHapus
  17. Candak nu kahartosna..taroskeun k nu ahli nu teu kahartosna..

    BalasHapus
  18. raden kian santang pny keturunan ga?
    cpa ajj yg msuk silsilah.a

    BalasHapus
  19. NUBENER MAH NU MAHA KUASA WEH ATUH URANG SERAH KEN KANU KEPERCAYAAN MASING-MASIN OK.,.,.,.,.,.,.,,.,.,,,.

    BalasHapus
  20. katanya perabu siliwangi masuk islam di garut ko disini gax di ceritakan

    BalasHapus
  21. nu bener mah sejarah na,..nu carita mah teuing bener teuing heunteu',...ualah percaya kanu ngomong 'katanya'..caritana jeung,..teangan sorangan..

    BalasHapus
  22. cerita'a sedikit bener tp prabu siliwangi bukan jadi maung dia lari masuk ke alam jin menjadi raja di sana, bersama pengikut'a, prabu siliwangi pertama'a masuk islam entah kenapa dia pindah agama lagi .... maka dia lari ke alam jin,,, parabu siliwangi sempat berdakwah di jawa barat,

    BalasHapus
  23. Syeikh Quro dan Syeik Syarif..karawang cirebon yah... Seru bwt disimak... berbicara sejarah harus dengan bukti sejarahnya... Bukti sejarah itu menujukan bahwa masa itu pernah ada...

    BalasHapus
  24. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Semua ntong ribut saya yang keturunan kiansntang aja cuma diam aja aku ksh saran boleh ngomongin leluhur sy tp dngan baik jangan asl ngomong krna اَللّهُ maha tau

    BalasHapus
  25. saha ari kiansantang atw rakyan sancang,atw raden sanggara,atw gagak lumayung atawa balangantrang,atw sunan rohmat,,,,eta hiji putra kukut prabu siliwangi nu kapendak ti tengah laut sancang nu di rorok jeng di rahasiahken identitasna ku prabu siliwangi asal ti sancang,dua nana balik dei tileum di sancang,ngan aranjena jalma sakti jd ngaraga badag tiasa napak tilas, ngantunken di tempat2 anu di pitapak mukimna supaya jd bukti ker rahayatna jeng meh te jd pamujaan, harita siliwang ngagem agama buhun ( agama karuhun ) lain hindu lain budha nya eta sunda wiwitan, ajarana jeng kitab sucina masih keneh aya di kampung2 adat nu umurna rebuan samemeh masehi, sunda wiwitan ajarana te jauh jeng islam sabab aya silsilahna yen sunda wiwitan aya ti luluhurna karuhun para nabi anu samemeh nabi ahir jaman,nya pas datang islam jd we disampurnaken agamana,,,,salah sahiji buktina kitab sunda jeng sejarah pasundan aya di kabuyutan ciburuy bayongbong garut,,mangga gera di pilari,,,,sakitu wae panimu ti simkuring,,,sihapunten nu kasuhun bilih teu sapagodos luhur saur,salah kecap, cag sampurasun

    BalasHapus
  26. Waallaikum salam kang Andi Bumilang, akan lebih bijak kiranya jika yg masih keturunan beliau bisa berbagi cerita yg sebenarnya mengenai Eyang Prabu Kian Santang, agar masyarakat biasa seperti kami yang tertarik dengan cerita Sejarah beliau dapat Informasi yg benar. Terimaksih.

    BalasHapus
  27. Assalamu alaikum..sedulur kabeh..cerita diatas hmpir2 mirip dgn kjdian pd zaman dulu..cm ada yg salah raden mas santang g pernah ming islamkan ayahny..sri baduga maha raja itu sudah islam sejak menikah dgn nyi mas subang larang anak syeh jumadil qubro..coba kalian pikir syeh qubro/quro g mngkin bgitu saja menikahkan anakny dgn prbu siliwangi tanpa syarat..tjuan syeh quro menyebarkn agama islam di pasundan makany di menikahkan anakny dgn siliwangi spy siliwangi msuk islam..dan 7anya berhasil..bersambung dulu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nhay Subang Larang bukan anak syeh quro tapi muridnya, Nhay Subang Larang anak dari Ki Gedeng Tapa Singapura

      Hapus
  28. komentar terakhir masuk akal,anu leresmah kitu...orang sunda nya sunda....padjadajaran....ayana di sunda....

    BalasHapus
  29. pami hoyong terang sajentre na....taroskeun wae ka eyang prabu....sareng siwun sinuwun....anu sanes...

    BalasHapus
  30. AAslm.
    Sejarah Rd. Kian Santang memang penuh msiteri dan banyak versi, tapi dari sekian cerita terdapat kisah yag perlu dicermati. daintaranya bahwa belaui pernah berguru kpd Sayidina Ali. Perlu diketahui bahwa Sayidina Ali hidup pd abad 8 M. sementara Rd Sangara (yg sll disebut Rd Kian Santang) hidup pada abad 15. Bgmn mungkin beliau berdua bisa ketemu padahal hidup pada zaman yg berbeda (terpaut 800 tahun) ?
    Mnrt catatan dari orang2 tua, Kian Santang yg asli hidup pada zaman Taruma Nagara (abad 7). Dia adalah pangeran yang bisa menundukan serbuan Dinasty Tang dari Cina. Kian santang artinya Ksatria Penakluk Dinasty Tang. Dia terkenal kuat (sakti) dan hanya dapat dikalahkan oleh Sayidina Ali.
    Dahulu kisah Kian Santang ditulis dalam buku dan tersimpan di perpustakaan kerajaan Padjadjaran.
    Alkisah Pangeran Walangsungsang dan Rd. Sangara yg merupakan putera@ Prabu Silihwangi merupakan ulama yg menyebarkan Islam di Tanah Pasundan (dimulai dari Cirebon). Dalam dakwahnya beliau selalu menceriterakan kisah Kian Santang (yag dia baca di Perpustakaan Kerajaan padjajaran). Namun kisah tersebut sedikiit dirubah disesuaikan dengan kepentingan dakwahnya. Masyarakat yg mendengar ceriteranya beranggapan bahwa kian Santang itu dia sendiri (Rd. Walangsungsang).
    Sebelum Prabu Silihwangi menikah dengan Ny. Subang Larang beliu telah masuk Islam. Jd cerita bahwa terjadi perang antara Kian santang dg Silihwangi garagara berbeda agama peerlu dicermati dg bijak. Sudah bukan rahasia lg bahwa sejarah kita banyak direkayasa oleh pihak luar dg tujuan mengadu domba (devide et impera).
    Demikian. wallau A’lam Bisawab

    BalasHapus
  31. Waktu yg memisahkan kita dg beliau teramat panjang. Sangat wajar klo terdapat banyak perbedaan versi sejarah. Mungkin semuanya benar mungkin semua salah. Hanya Allah yg tau. Yg paling penting adalah mari kita ambil hikmah dan pelajaran dari kisah Raden Kian Santang. Kita teladani perjuangan, niat baik dan keikhlasannya. Rendah hati, mencintai rakyat, menjunjung kebenaran dan keadilan. Insya Allah akan bermanfaat utk bangsa ini apabila kita lebih mengenal dan meneladani tokoh2 sejarah yg merupakan leluhur kita tersebut daripada sekedar memperdebatkan perbedaan2 versi sejarahnya.

    BalasHapus
  32. Punteun ah ka sadayana wargi" saruntuyan,.
    Simkuring ngiring ngaharewong,.
    Tp sateu acanna nyuhungkeun dihapunteun bilah aya kalepatan tata cara tulisan,.
    Simkuring mung masihan bongbolong sakedik kasadayana saturunan sunda,.
    Pami hoyong terang nu sajentre-sentrena mah,
    langsung weh angkir atanapi sambat eyang prabu siliwangina atanapi eyang syeh rahmat suci,.
    Insya alloh pami niat urangna sae,.
    Pasti alloh mah masihan jalan kaluarna.,

    BalasHapus
  33. ASSALLAMUALAIKUM,,,
    HANYA ALLAH SWT LAH YANG MEMPUNYAI KEBENARAN,,, MEMOHONLAH KEPADANYA ATAS SEMUA KISAH INI,, YAKIN SEMUANYA PASTI JELAS,,,,

    PUNTEN ABDI NAMBIHAN SAKEDIK,, UPAMI NYAMBAT TEH SIEUNA ANU DATANGNA ANU LIAN,, SARENG ANU PENTING MAH SAUR ABDI MH AYNA MH URANG SALAKU URANG SUNDA TINGGAL NULUYKEUN, PERJUANGAN NENEK MOYANG SADAYANA ,, NYAETA HIRUP DINA KALEUREUSAN, NYAETA JALAN NU DI RIDHOI ALLAH SWT..
    WASSALLAMUALAIKUM...WR...WB

    BalasHapus
  34. Kian Santang itu tokoh khayalan . . .
    Kisahnya pun berbagai versi, dan tidak masuk akal.
    Banyak historical-error nya, misal masa hidup Kian Santang dan Sayidina Ali yang jauh berbeda.
    Kisah Kian Santang merupakan Ancient-Hoax . . . sejenis HOAX, yang dibuat oleh para penyebar agama Islam di jaman dulu untuk keperluan penyebaran agama Islam.
    Jadi bukan tokoh yang benar-benar pernah hidup di dunia.
    Di jaman sekarangpun orang Islam tertentu masih rajim membuat Hoax, misal : Paus Benedictus masuk Islam, Neil Armstrong masuk Islam, Meteor yang jatuh di Cirebon tertuliskan Allah, Pendeta yang membakar AlQuran mati terbakar, dsb nya.
    Semua itu cuma hoax . . . cerita palsu.

    BalasHapus
  35. Kian Santang itu tokoh khayalan . . .
    Kisahnya pun berbagai versi, dan tidak masuk akal.
    Banyak historical-error nya, misal masa hidup Kian Santang dan Sayidina Ali yang jauh berbeda.
    Kisah Kian Santang merupakan Ancient-Hoax . . . sejenis HOAX, yang dibuat oleh para penyebar agama Islam di jaman dulu untuk keperluan penyebaran agama Islam.
    Jadi bukan tokoh yang benar-benar pernah hidup di dunia.
    Di jaman sekarangpun orang Islam tertentu masih rajim membuat Hoax, misal : Paus Benedictus masuk Islam, Neil Armstrong masuk Islam, Meteor yang jatuh di Cirebon tertuliskan Allah, Pendeta yang membakar AlQuran mati terbakar, dsb nya.
    Semua itu cuma hoax . . . cerita palsu.

    BalasHapus
  36. Cerita ttg Kiansantang versi ini, telah sy dengar waktu kecil dulu....... setelah sy membaca Naskah "Pangerang Wangsakerta" sepertinya terbukalah siapa Kiansantang.
    Menurut naskah Wangsakerta, Sri Baduga Maharaja, Raja Pajajaran mempunyai 3 istri, dari Istri pertama Kentring Manik Mayang Sunda mempunyai putra 2, yaitu Surosowan dan Surawisesa, dari istri kedua mempunyai putra: Suranggana, dari istri ketiga (Nyai Subang Larang, beragama Islam), mempunyai 2 org pura dan 1 org putri yaitu: Walang Sungsang/Pangeran Cakra Buana, Nyi Mas Rara Santang (putri) dan Raja/Jaya Sangara.
    Nyi Mas Rara Santang ini selanjutnya bermukim di Mesir dan menikah dg seorg Syah Bandar yang bernama Syarif Abdullah (yang melahirkan putra diberi nama Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati).
    Khusus unt Raja/Jaya Sangara, setelah dewasa berangkat ke Mekkah unt menunaikan ibadah haji serta memperdalam agama Islam, pada saat itulah oleh kaka iparnya (Syarif Abdullah), beliau diberi nama MANSYUR
    Sekembalinya dari jajirah Arab, oleh kakanya (Cakrabuana/Penguasa Cirebon) ditugaskan menyebarkan agama Islam kewilayah Priangan, disini Raja/Jaya Sangara/Mansyur diberi julukan oleh masyarakat dg nama GAGAK LUMAYUNG.
    Selanjutnya Raja/Jaya Sangara/MANSYUR/GAGAK LUMAYUNG, ditugaskan kembali oleh kakanya untuk menyebarkan agama Islam diwilayah Pantura sd Bogor, krn dianggap sukses dlm tugasnya, maka semakin terkenallah dia, yg dalam bahasa Sunda istilah semakin terkenal adalah KEAN/KIAN SANTANG yg artinya Semakin terkenal.
    Kemudian Oleh Cakrabuana, ditugaskan untuk membantu keponakannya ( Syarif Hidayatullah) dlm penyebaran Islam di Banten, bertugaslah Raja/Jaya Sangara/MANSYUR/GAGAK LUMAYUNG/KEAN/KIAN SANTANG ditanah Banten sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di kaki Gunung Pulosari yg bernama Kp CIKADUEUN, serta dienallah tempat ziarah ini dg nama MAKAM SYEH MASYUR CIKADUEUN
    Seperti itu sedikit yg sy ketahui
    Hampura
    H Mulyana

    BalasHapus
  37. Ampyun deh diatas katanya kian santang dimakamkan di garut skr ada yg blng di banten jgn2 tar ada yg blng dimakamkan di jakarta lagi...

    BalasHapus
  38. moal komen akh bisi majarkeun sotoy..

    BalasHapus
  39. Ass. Salam salawat kanggo kanjeng Rasul SAW katurunanna sahabatna , salam salawat kanggo ulama waliyuallah, anu membuka cahaya illahi kanggo turunan raja padjadjaran...cukup doakan saja utk para karuhun tanah sunda dr ujung kulon smp ujung selatan cilacap..dan hayu ayeuna mah cing areling para pemuda khususna turunan darah raja sunda anu masih hirup ayeuna..bangkitkeun deui peradaban anu eling, cageur, bener, ka hareup..sakumaha ajaran sunda anu disampurnakeun ku alquranurqarim..anu nyata kabenaranna..ulah asal ucap,salah lalakon hirup ayeuna...amin..

    BalasHapus
  40. Sejarah memang Jangan dilupakan,,tapi ulah nepi ka kudu ningali terus sejarah,,da aya Masa Depan nu kudu di hareupan..
    Mun bareda Pandang Sejarah Pajajaran teu jadi masalah ceuk saya mah....
    Nu jadi masalah geh mun urang poho kana kawajiban urang di dunya pikeun bekel di akhirat..

    BalasHapus
  41. Assalamualaikum
    Nya panginten ari kajantenanana mah leres mung pami sajarah mah tos seueur nu nyaritakeunana deui kalayan tos ditambih sareng di kirangan janten henteu luyu sareng kanyataanan, ujung-ujungna iasa nambihan himeng ka urangna, tapi hiji mangsa pasti sajarah sunda nu saestuna tangtos bakal kaguar deui.
    Pancen urang ayeuna mah ngawal jeung ngamumule budaya sunda sangkan ulah jadi pareumeun obor sangkan urang Sunda jadi MAUNG (MAnusa UNGgul) nu teu poho kana purwadaksi katut wiwitan
    Wassalam
    ngan urang salaku urang sunda, ulah hilap kana wiwitan .

    BalasHapus
  42. ada yg lbih keren.... kenalkan nama kedua saya KIAN GANTENG..... :D

    BalasHapus
  43. :? eike jd pusyiiiinnngggg....!
    fakta,fiksi,yg bo'ongan,yg betulan,sejarah,dongeng,isu,gosip,rumor,mitos campur aduk jd satu

    :roll: ada yg punya aspirin?

    BalasHapus
  44. Yang benar itu dari allah yang salah dari manusia dan tang pasti salah itu adalah syetan dri pada ngadanguken anu hente kudu didangu mending urang ngaliwet babarengan

    BalasHapus
  45. Naha jadi parasea kieu?? Ges we maraneh kabeh ulin ka garut,, di garut aya sakabeh jawaban na,, bisi hyng ninggali bukti kian santang aya tuh di makam godog,, bisi hyang ninggali prabu siliwangi kari atuh init ka sancang pameungpeuk.. Teu kudu riweuh aya di banten , aya di cianjur,, aya nu ngomong hoax beungeut sia hoax !!! Lamun lain ku prabu kian santang .. Urng sunda islam na ku saha?? Da sunan gunung jati mah ngan nepikeun cirebon atuh.. Cirebon mah bahasana ge jawa ,, jauh jeung urng sunda.. Pikir ka dinya atuh.. Bisi di gebug ku aing !

    BalasHapus
  46. sejarah itu harus kita hargai,karna kita bukan orang israel yang tidak mempunyai sejarah budaya dan adat. kita harus bersyukur dilahirkan yang mempunyai sejarah diketurunnya.
    ada sumber: bahwa sebenarnya prabu siliwngi tidak mati tapi (ngahiang) atau menghilang saat bertempur dengan anaknya dan sebelum menghilang dia mengatakan bahwa ia akan memperjuangkan/membantu jalan agama islam dalam hal apapun tapi ia akan masuk islam setelah kiamat datang. percaya ga percay coba anda buktikan disetiap maqam wali selalu dijaga oleh jin yang berwujud maung.
    dan yang menjadi perdebatan antara anak dan bapa itu adalah perkara hari kiamat.

    BalasHapus
  47. sedikit yang saya tau,,,prabu siliwangi itu berkepercayaan hindu karena sebelum Islam masuk ke tanah Jawa Hindu sudah ada,,bukti peninggalanya ada di kaki gunung salak....dan Prabu silingawi sudah Islam sebelum Wafat dan dimakamkan di Mekah...Prabu Silingawi Tetap Menyebarkan Agama Islam Sampai Saat Ini karna dia Nyangiang,,tidak heran ada orang tiba-tiba berilmu tinggi tapi hanya orang-orang terpilih saja, mohon maaf jika ada kesalahan.

    BalasHapus
  48. Akh ka sadayana teu kedah lier alias puyeng, bade Rd. Kiansatang, Prabu Siliwangi, pokokna eta teh sadayana oge Tokoh nu tos masihan contoh kasaean, ayenamah hayu urang nyontoh minimal nu ntos di dugiken dina panyebaran dakwah Islamna! Insya Alloh urang oge sadayana bakal janten pelaku sejarah asal siap w jante pelaku sejarahna...Alias Menjadi Pelaku Dakwah Islam....Sampurasun saderek sadayana...Wassalamu'alaikum Wr, Wb.

    BalasHapus
  49. duh lapar hayang udud

    BalasHapus
  50. banyak cerita, versinya berbeda beda...karena buku yang dibaca juga berbeda beda...tetapi kalo Al quran yang kita baca insya Allah tidak ada yang berbeda versi karena datangnya langsung dari yang menciptakan alam semesta... jadi mau cerita sejak Nabi Adam AS di surga sd datangnya hari kiamat pasti hanya satu versi saja...kalo cuma cerita manusia yang buat baru dari abad ke 8 sd abad ke 14 saja sdh ngga jelas... lebih baik bagi yang beragama islam marilah kita perbanyak membaca al Quran berikut artinya ...agar kita bisa selamat dunia dan akherat....amin yra...

    BalasHapus
  51. kalo mau jelas ceritanya...bertawasullah dan kirim doa buat Raden Syarif Hidayatullah atau sunan Gunung jati...pasti nanti saudara akan menemukan mana cerita yang benar adanya...

    BalasHapus
  52. carilah tawasulan 12.insa allah aya bongbolongan tina babad sunda

    BalasHapus