Berburu Harta Karun


Kali ini, seorang teman yang tinggal di daerah lintas Riau, tepatnya di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit Kota Bagan Batu, Kec. Rokan Hilir, Sumatera Utara meminta bantuan dalam hal penarikan harta karun. Sang teman menyebutkan, keberadaan lokasi harta karun itu tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga. Tepatnya di sebuah jembatan tua yang dikenal warga setempat dengan nama Jembatan Bulu Cina.

Yang menarik, konon lokasi jembatan tersebut dulunya adalah bekas sebuah pelabuhan dagang. Tepatnya di masa penjajahan Belanda. Warga setempat juga meyakini adanya timbunan harta karun peninggalan dari jaman penjajahan Belanda di lokasi ini.

Setelah mengumpulkan keterangan warga sekitar, diperkuat lagi oleh seorang paranormal setempat yang tingal tidak jauh dari Kota Bagan Batu bernama Pak Thamrin, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Pak Marsobe, memang keberadaan harta karun itu bukannya cerita isapan jempol semata.

Setelah mengumpulkan berbagai informasi,dengan dibantu sejumlah teman mulai menyusun strategi untuk melakukan pekerjaan yang termasuk nyeleneh dan muskil tersebut.

Tidaklah mudah untuk menemukan lokasi yang disebutkan oleh sejumlah sumber sebagai areal kuburan harta karun itu. Ini terbukti ketika kami hunting untuk melihat lokasi perburuan, setelah dua jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai di lokasi, kami masih harus mengadakan penyisiran.

Malam itu, tepat pukul 23.30, kami baru menemukan lokasi dimaksud. Tidak banyak persiapan yang kami bawa sebab memang tujuan kami kali ini hanya untuk sekedar melakukan pendeteksian seputar benar tidaknya keberadaan harta karun dilokasi tersebut.

Benar yang dikatakan Pak Marsobe, makhluk-makhluk penunggu lokasi tersebut sangatlah banyak dan amat sulit untuk bisa diajak berkomunikasi.

Malam itu kami beranggotakan 5 orang, dan diantaranya adalah Pak Marsobe sendiri.

Saat malam kian larut, udara pun semakin dingin. Hal ini menambah suasana di sekitar lokasi semakin mencekam. Namun kondisi ini tidaklah menyurutkan semangat kami untuk melakukan pendeteksian.

Seperti biasa, kami terlebih dahulu melakukan doa-doa dan tawasul, mohon perlindungan kepada Allah SWT, para Nabi beserta para wali Allah, agar kami terhindar dari gangguan dan tipu daya para gaib penghuni lokasi.

Dalam suasana kekhusyuk, tiba-tiba salah seorang anggota kami ada yang mengalami ketakutan yang amat sangat. Badannya menggigil, seperti orang kedinginan. Apa yang terjadi?

Rupanya, anggota yang satu ini memang memiliki bakat untuk mampu melihat sesuatu yang gaib. Rupa dia melihat beragam jenis makhluk halus, yang jumlahnya sangatlah banyak.

Pemandangan tersebut juga disaksikannya dan anggota lainnya dalam kontemplasi. Terbukti, semakin lama kami memasuki alam mereka, jumlah mereka semakin bertambah banyak.

Pada saat itu, kami mengalami sedikit keraguan. Apakah mungkin kami mampu menghadapi makhluk gaib dengan jumlah yang begitu banyak? Dan terus terang, ini merupakan kaus pertama yang kami alami; Menghadapi koloni makhluk halus dengan jumlah yang amat banyak.

Di tengah kebingungan dan kebimbangan yang berkecamuk, tiba-tiba di tengah kerumunan makhluk gaib itu, muncul selarik sinar putih yang sangat berkilau. Sinar itu melesat, lalu jatuh menghujam di antara kerumunan makhluk-makhluk halus. Apa yang terjadi? Makhluk-makhluk itu berteriak sambil lari pontang-panting meninggalkan arena.

Selang beberapa saat kemudian, kami melihat cahaya tersebut berubah menyerupai wujud guru kami. Dan tidak lama kemudian cahaya tersebut hilang, disusul dengan hadirnya dua sosok wanita cantik yang mengenakan kebaya bermotif batik. Bau aroma daun pandan langsung menusuk hidung.

Salah seorang anggota tim yang memang berasal dari perguruan yang sama, memang sudah terbiasa dengan adanya gelagat kurang baik dalam melakukan perburuan benda gaib. Dengan hadirnya dua sosok gaib di hadapan kami, seketika itu langsung mengisyaratkan kepada anggota yang lain untuk menghindar dari lokasi tersebut, meninggalkan teman seperguruan.

Setelah kami merasa kondisi anggota yang lain aman, maka kami berdua mencoba berkomunikasi dengan kedua sosok wanita tersebut. Beberapa kali kami mengucapkan salam, akan tetapi tidak pernah mendapat jawaban.

Selang beberapa lama kami belum juga berhasil mengajak berkomunikasi kedua makhluk gaib berwujud wanita berkebaya tersebut. Melihat kondisi ini, untuk mengorek sedikir keteranbgan tidak ada jalan lain kecuali dengan sedikit kekerasan.

Satu syair ayat kalimat penakluk bangsa siluman dan jin kami baca dengan penuh keyakinan. Usaha ini ternyata membuahkan hasil. Kedua makhluk itu sambil sedikit menghardik meminta kami untuk tidak membaca lagi ayat tersebut. Dengan sorot mata nanar, mereka terus memandangi kami. Rupanya mereka sudah mulai melunak.

"Kenapa kalian tidak mau menjawab uluk salam kami?" Tanya Misteri.

"Kami bukan dari kaum kalian, dan untuk apa kalian jauh-jauh kemari dan mengganggu kaum kami?" Jawab salah satunya sambil menatap tajam. Tidak kami sangka sbelumnya, mereka akan melontarkan pertanyaan balik seperti itu.

"Sebagian harta yang terpendam di lokasi ini adalah hak sebagian warga di daerah ini. Untuk itu kami berniat untuk mengambilnya dan membagikannya kepada mereka," jawab Misteri.

Kembali mereka terdiam, dengan mata tidak lepas terus menatap tajam ke arah kami. Sesaat, mereka kembali membuka pembicaraan.

"Menjadi milik kami harta itu lebih baik daripada menjadi milik kalian. Apa yang bisa kalian berikan terhadap kami berdua bila sebagian harta di sini kulimpahkan kepada kalian? Dan aku tahu, kalian tidak akan memberikan sesuatu apapun kepada kami."

Belum sempat kami menjawab pertanyaan mereka, dua wanita gaib itu tangannya meraih sesuatu dari dalam tanah. Dan dari genggaman tangannya ada sesuatu yang gemerlap menyerupai sebentuk kalung yang terbuat dari emas, dan sebuah gelang yang sedikit berwarna agak kuning keputih-putihan.

Ternyata benar, sesuatu yang mereka ambil dari dalam tanah tersebut adalah sejumlah perhiasan kalung dan gelang. Sambil terus menatap tajam, salah satu sosok wanita gaib itu mengulurkan tangannya kepada kami sambil berucapa, "Terimalah barang ini terlebih dahulu, dan pertimbangkan keinginan kami berdua."

Setelah Misteri menerima benda tersebut, belum sempat bertanya lebih banyak lagi, perlahan-lahan dua sosok wanita gaib tersebut menghilang dari hadapan kami. Tidak sempat lagi kami bertanya, kira-kira apa gerangan yang menjadi keinginan mereka.

Setelah kejadian itu, agak lama kami berdua terdiam untuk mengingat-ingat kembali apa yang mereka ucapkan, dan apakah kami yang terlupa mengenai permintaan mereka.

Setelah itu kami berdua kembali bergabung dengan anggota yang lain. Kami pun menceritakan semua hasil pembicaraan yang sempat kami lakukan dengan kedua makhluk penunggu Jembatan Bulu Cina. Dan ditambah lagi dengan pembicaraan beberapa buah perhiasan emas yang pada saat itu sudah ada di tangan kami berdua.

Pukul 03.00 dinihari, kami tiba kembali di rumah sang teman pemberi informasi. Setelah selesai menjalankan shalat malam, Misteri berniat untuk merebahkan badan. Tiba-tiba Misteri menangkap sinyal kontak gaib dari sang guru. Segera Misteri melakukan posisi tafakur untuk menyatukan batin dengan guru yang berada di Ujung Kulon, Banten.

Dari hasil kontak batin yang Misteri terima, sang guru menyarankan untuk segera meninggalkan Kota Riau saat itu juga. Dan tanpa tahu lagi apa alasannya sehingga kami harus meninggalkan pekerjaan yang baru saja kami kerjakan, malam itu juga Misteri dan sang teman seperguruan sefera berpamitan pada anggota tim yang lain. Mereka tentu saja tak habis pikir dan bingung dengan apa yang kami putuskan. Tetapi mereka pasti akan mengerti bahwa apa yang kami kerjakan adalah suatu hal yang menyangkut pekerjaan yang diluar kuasa lahirlah, dan semua berlangsung secara batiniah dan gaib.

Di pagi buta itu, kami berdua beranjak meninggalkan Kota Riau, persisnya di Bagan Batu, untuk segera menuju bandar udara di Pekan Baru. Kami langsung membeli tiket penerbangan menuju Jakarta.

Ringkasnya, kami akhirnya tiba kembali di tempat guru mengasingkan diri. Tepatnya di daerah Ujung Kulon, Banten. Setibanya disana, kami langsung disambut oleh sang guru dengan raut muka yang sedikit berbeda dari biasanya. Tidak banyak yang dia ucapakan kepada kami.

Di tengah kebingungan melihat perubahan sikap sang guru terhadap kami berdua, sang guru lalu mengarahkan kami menuju suatu tempat berupa goa di lereng bukit. Goa ini biasa dipergunakan oleh guru kami untuk menyepi ke hadapan Gusti Pangeran, Allah SWT.

Di dalam goa, kami berhadapan dengan tiga buah peti yang berukuran sekitar 50 Cm persegi dengan kondisi peti terbuat dari logam seperti kuningan yang sudah usang dan berkerat. Jarak kami berkisar tiga meter dari posisi ketiga buah peti tersebut tergeletak.

Sambil duduk bersila, kami bertiga menghadapi ketiga peti tersebut. Dan di tengah keheningan suasana, sang guru memberikan isyarat kepada kami sambil berkata, "Coba kalian berdua membuka mata batin kalian. Dan lihatlah apa yang sedang kalian hadapi?"

Kami berdua sempat terperanjat melihat keberadaan ketiga peti tersebut, sebab diatasnya telah duduk tiga anak kecil masing-masing di atas satu peti tersebut. Dan yang membuat kami lebih heran lagi, ternyata ketiga anak kecil tersebut adala anak-anak manusia. Mereka adalah satu anak teman seperguruan Misteri, satu lagi anak dari paranormal Negeri Lama Pak Marsobe, dan satu lagi anak Misteri sendiri sendiri. Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Selang beberapa saat, anak-anak itu menghilang dari pandangan kami, dan kembali kami melihat hadirnya dua sosok wanita gaib yang sempat kami temui di lokasi harta karun yang ada di Jembatan Bulu Cina. Kedua sosok gaib tersebut sangat ketakutan ketika guru kami coba mendekati mereka.

Tidak jelas apa yang guru ucapkan kepada mereka. Namun yang kami tahu, kedua sosok gaib tersebut membuka masing-masing peti tersebut dan memperlihatkan isinya kepada kami.

Ternyata, peti tersebut kesemuanya berisikan perhiasan emas yang tidak terhitung lagi jumlah dan ragamnya. Dengan sedikit tersenyum, sang guru memandang kami berdua. Tidak lama kemudian, tangan sang guru eperti mengisyaratkan agar kedua sosok perempuan gaib tersebut untuk segera pergi.

Tak lagi kemudian, kedua sosok gaib tersebut sambil memandang kami berdua dengan sorot penuh amarah, perlahan menghilang dari pandangan. Bersamaan dengan itu ketiga peti harta juga menghilang dari hadapan kami bertiga. Apa yang terjadi?

Sang guru kami memberi penjelasan...:

Dengan gambaran ketiga anak-anak tadi, para gaib yang ternyata jelmaan dari siluman buaya putih penghuni sungai mati Bulu Cina sesungguhnya menginginkan agar ketiga anak itu dijadikan tumbalnya.

"Mereka memberi dua pilihan. Pertama menumbalkan anak kalian, dan yang kedua kalian harus bersedia dijadikan suami-suami sosok siluman tersebut. Asal kalian tahu, ketiga peti yang berisikan perhiasan tadi merupakan sebagai pinangan mereka terhadap kalian," jelas sang guru.

Pilihan terakhir itulah yang membuat guru kami pada saat itu memandang kami dengan sedikit senyuman. Kedua syarat tersebut tidak ada yang kami sepakati.

Kesimpulan yang kami peroleh dari keterangan dari guru kami ternyata sosok siluman buaya putih tersebut ternyata tidak rela melepaskan kami begitu saja. Untuk itulah, kami berdua tidak diperkenankan keluar dari goa tempat bersemedi selama tiga hari tiga malam, sambil menjalankan puasa dan zikir tertentu untuk permohonan ampunan dan taubat kepada Allah SWT.

Setelah tiga hari, kami baru keluar dari goa. Dibimbing sang guru kami melangkah meninggalkan goa, karena kondisi tubuh kami waktu itu memang sudah sangat lemah dikarenakan selama tiga hari puasa dengan setiap sahur dan bukanya hanya menelan air putih mentah dan makan pucu-pucuk daun muda yang ada di sekitar goa tersebut.
Begitulah kisah ini dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada guru tercinta. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT dari tipu daya setan dan iblis yang akan menjerumuskan kita ke lembah kenistiaan dan kemurtadan.

3 komentar:

  1. benar kah begitu.
    kenalkan sya Ahmad Batara Jaga asal Panddeglang Banten, Sang pengembara mencari jati diri dan mencari asal usul kehidupan.

    BalasHapus
  2. ass saya Rahman dari daerah Padang saya mau ucapkan kepada pembuat blog ini karena berkat bantuannya saya bisa ketemu dgn eyang Keramat juru kunci gunung Bromo,awalnya saya hanya tukang becak yang sangat dihina dan dicaci,hutang ada dimana-mana,akhirnya saya sudah pusing dan gampir bunuh diri tp saya baca iklan di internet dan saya coba menghubungi eyang Keramat,awalnya saya ragu dan bimbang tp saya punya keyakinan dan kemauan akhirnya saya mencoba mengikuti pesugihan Gunung Bromo,alhamdulillah sekarang saya tidak dihina lagi hutang2 saya semua sudah lunas dan saya sudah mempunyai rumah sendiri,sekarang saya sudah memiliki usaha warung kecil2lan,berkat bantuan eyang Keramat saya bisa seperti ini,terimah kasih Eyang berkat eyang saya sudah seperti ini,mau seperti sy silahkan langsung hub Eyang guru keramat di nmr 085241682128 ,ini kisah nyata saya demi Allah kalau saya berbohong,terimah kasih.

    BalasHapus
  3. ass saya Rahman dari daerah Padang saya mau ucapkan kepada pembuat blog ini karena berkat bantuannya saya bisa ketemu dgn eyang Keramat juru kunci gunung Bromo,awalnya saya hanya tukang becak yang sangat dihina dan dicaci,hutang ada dimana-mana,akhirnya saya sudah pusing dan gampir bunuh diri tp saya baca iklan di internet dan saya coba menghubungi eyang Keramat,awalnya saya ragu dan bimbang tp saya punya keyakinan dan kemauan akhirnya saya mencoba mengikuti pesugihan Gunung Bromo,alhamdulillah sekarang saya tidak dihina lagi hutang2 saya semua sudah lunas dan saya sudah mempunyai rumah sendiri,sekarang saya sudah memiliki usaha warung kecil2lan,berkat bantuan eyang Keramat saya bisa seperti ini,terimah kasih Eyang berkat eyang saya sudah seperti ini,mau seperti sy silahkan langsung hub Eyang guru keramat di nmr 085241682128 ,ini kisah nyata saya demi Allah kalau saya berbohong,terimah kasih.

    BalasHapus