Pengasihan Ayat 15

Ilmu pengasihan ini diambil dari ayat 15, ayat yang ke 3 dimana dapat ditujukan untuk menggerakkan hati orang yang dituju agar menjadi cinta, sayang dan simpati baik pria maupun wanita.

Syarat mutlak yang harus dimiliki oleh pengamal ayat ini adalah harus melakukan shalat wajib/5 waktu.

amalannya :

Walau ana qur'aanan suyi'rat

bihil jibaalu alu quth thi'at

bihil ardhu aw kullima bihil maut

ballilahil amru jamii'a

Sebut nama yang dituju sebanyak 3x

Sebut apa yang diinginkan

Amalan bacaan ini sebanyak 7x setiap selesai shalat fardhu. Dan lakukan selama 7x sholat fardhu. Dan biasanya 3x shalat fardhu sudah ada hasil/perubahan yang kita harapkan.

Demikian dan semoga bermanfaat amin.

Selengkapnya...

Ilmu Pengasihan Liler Nabi Daud


Hanya dengan berbicara menggunakan media telepon atau handphone, lawan jenis yang dituju pun menjadi takluk dan jatuh hati. Kekuatan Liler Nabi Daud terletak pada suara yang bisa membuat lawan jenis rindu serindu-rindunya. Ilmu pengasihan ini berasal dari Ranah Minang dan diyakini sangat ampuh untuk menundukkan lawan jenis. Kekuatan ilmu ini terletak pada suara. Hanya dengan berbicara dan mendengarkan suara dari si pengamal, maka orang yang dituju akan jatuh cinta dan selalu rindu jika tidak bertemu dengan si pengamal.

Untuk menguasai ilmu Liler Nabi Daud, tidak susah yang, terpenting adalah keyakinan serta tekad yang bulat. Ilmu ini bisa diamalin oleh pria dan wanita. Bagi anda yang berminat untuk menguasai ilmu Liler Nabi Daud pada kesempatan ini penulis akan memaparkan dengan lengkap syarat dan ajian yang akan dibacakan.

Penguasaan ilmu Liler Nabi Daud, anda harus bersih raga dan rohani dengan berpuasa sunnah, dimulai dari hari kelahiran anda. Sebelum puasa, anda haruslah mandi keramas.

Adapun niat berpuasa adalah untuk mendapatkan ridho dan izin dari Allah dalam mendapatkan ilmu Liler Nabi Daud. Untuk menyempurnakan ilmu ini, puasa dilakukan selama 7 hari berturut-turut.

Pada puasa hari kedua dan seterusnya, bacakan ajian ilmu Liler Nabi Daud pada tengah malam sebanyak 7 kali. Pembacaan ajian tersebut dilakukan sambil membayangkan orang yang hendak dituju.

Adapun ajian Liler Nabi Daud adalah sebagai berikut :

Bismillahirrahmannirrahim

Sapati kumbang bandangung-dangung

Dangukan pulo suaraku

Sapati bayi laparkan susu

Tangihkan hati si........

Ketiko mandanga suaraku

Hilang raso, hilang sukmo

Tunduak hati, tunduak kasih si.......

Berkek aku memaki liler suara Nabi Daud

Ooo............simangat..........3x

Datang dan rindukan wajahku

hadir.....hadir......hadir..1x

Bahasa Indonesianya :

Bismillahirrahmannirrahim

Seperti kumbang berdengung-dengung

Dengungkan pula suaraku

Seperti bayi laparkan susu

Tangiskan hati si........

Ketika mendengar suaraku

Hilang rasa, hilang sukma

Tunduk hati, tunduk kasih si.......

Berkat aku memakai liler suara Nabi Daud

Ooo...... (nama yg dituju) semangat (nama yg dituju) .............3x

Datang dan rindukan wajahku

hadir.....hadir.....hadir...

Setelah berpuasa, anda dapat menggunakan ilmu Liler Nabi Daud. Pada saat berbicara langsung atau lewat telepon cukup dibaca 1x. Ajian dibacakan saat orang yang dituju sedang berbicara kepada anda. Setelah ajian dibaca hembuskan nafas dimulut secara perlahan ke arah orang tersebut atau ke telepon.

Agar lebih mudah digunakan, anda harus menghafal ajian tersebut. Sebagai informasi Ilmu Liler Nabi Daud dapat juga digunakan untuk agar disenangi dalam percakapan, atasan, sales yang menjual barang dagangan ataupun transaksi bisnis yang sering menggunakan telepon.

Bila anda berniat menguasai ilmu ini, kunci utamanya adalah keyakinan karena Allah SWT. Dan diharapkan juga ilmu ini digunakan dengan niat yang baik serta tidak disalah digunakan akibatnya akan jadi fatal.

Selengkapnya...

Amalan Menembus Alam Thuroby

Alam thuroby adalah alam yang di huni oleh waliyulloh yang semasa hidupnya tidak sampai mengalami arti kematian fisik(muksa).Mereka ini di tempatkan bersama Nabiyyullah Khidir AS,yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan.

Alam ini disebut dengan surga"Marjazi"sama seperti alam Barry,hanya saja alam Barry setingkat lebih tinggi derajatnya di banding dengan kenikmatan yang ada di alam Thuroby.

Alam Barry adalah alam yang di huni oleh waliyulloh yang semasa hidupnya telah mengalami kematian.Di sini mereka di tempatkan karena kefadholan atau kebijakan
Allah SWT,khusus bagi hamba-hambanya yang telah selamat dari siksa alam kubur.
Dalam kaedah syar'iyah,alam ini disebut juga alam surga"Marjazi"atau surga sementara.

Berikut ini adalah amalan untuk menembus Alam Thuroby,dan semoga saja mendapatkan
ridho dari Allah untuk sampai bisa menembus Allam Thutoby ini...AMIN

Caranya dalah sebagai berikut:
-Bacalah asmaul'husna sebanyak 11x
-Ya latif 129x
-Allahu lathifun bi'ibadahi yarzuku manyasa'wahuwal qowiyyul aziz
-Allahu
3x Al jabbaru hijaban mania
-Bismillahirrohmannirrohim.Alam nasyokh laka sodrok,wawado'naa ankawizrok
fainna ma'al'usri yusron inna ma'al'usri yusron faidzaa farogtafansob
wailaa robbika fargob
7x
-waksyiful hijaba baeniddunya watthurob
(dibaca seikhlasnya).

Amalan ini istikhomahkan secara teratur di setiap malam,semoga dengan amalan ini kita
dapat berkunjung ke Alam Thuroby,tempat yang terindah tiada tara...Dan semoga kita
semua di ridhoi oleh Allah SWT untuk dapat berkunjung ke sana..........AMIN

Selengkapnya...

shalat hajat khusus

Shalat hajat khusus adalah suatu amaliyah yang sangat berguna,hajat anda akan cepat terkabul.
Maka setiap malam lakukan shalat hajat khusus ini.Shalat khusus ini ada 4 rakaat
dan 2 salam,tetapi lebih baik sebelum melakukan shalat hajat khusus lakukan shalat taubat dahulu 2 rakaat

cara mengamalkannya:
1.lakukan shalat taubat 2 rakaat di tengah malam setelah salam,membaca istighfar 1000x
2.kemudian melakukan shalat hajat khusus 4 rakaat 2 salam:
-Rakaat 1 setelah Al-Fatihah membaca Al-Ikhlas 10x
-Rakaat 2 setelah Al-Fatihah membaca Al-Ikhlas 20x
-Rakaat 3 setelah Al-Fatihah membaca Al-Ikhlas 30x
-Rakaat 4 setelah Al-Fatihah membaca Al-Ikhlas 40x
3.setelah shalat hajat khusus,bacalah amalan ini:
-Istighfar 100X
-Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaaha illalloh wallaahu akbar wa laa haula
wa laa qu'waata illa billahil'aliyil'adziim
100x
-Sholawat Nabi 100x
-Al-Fatihah 1x
-Ayat Qursyi 1x
-Lalu membaca doa di bawah ini:
"Allahumma sholli'alla saidiinaa muhammadin
sholatan tunjiinaa bihaa min jamii'il haajaati
wa tutohirunaa bihaa min jamii'is sayyi'at
wa tarfau'una bihaa indaka'alad darojaati
wa tuballigunaa bihaa aqsol goyaat min jamii'il khairaati fil hayaati
wa bangdal mamaat.Wassolallahu alla khoiri kholqihi sayyidinaa Muhammadin
wa alaa alihi wa sohbihi wassalam"


4.setelah membaca amalan di atas,lalu mengirimkan hadiah Al-Fatihah kepada:
-Rasulluloh SAW
-Nabi Khidir AS
-Nabi Sulaiman AS
-Seluruh Nabi/Rasul
-Seluruh Malaikat
-Syekh Umar Syalla Al Makki RA
-Seluruh mukminim/mukminat,muslimin/muslimat bagi yang masih hidup
atau yang sudah mati

-Para leluhur si pelaku tirakat
-Kedua orang tua
-Diri sendiri
-Lalu memanjatkan doa permohonan.....
-Membaca takbir"Allahu Akbar"21x

semonga amalan ini dapat menjadi solusi yang berharga bagi kalian.....AMIN
Selengkapnya...

ciri orang terkena gangguan jin

menurut kalangan ulama ,kesurupan jin memang bisa menular pada orang sekitar.
tak heran bila orang yang terkena bisa menular pada orang yang lain,contoh saja akhir-akhir ini banyak terjadi kesurupan massal di sekolah sekolah di negeri kita ini.

Ulama besar Ibnu Taimiyah mengatakan dalam bukunya yang sangat terkenal"Majmu Al-Fatwa" tentang kesurupan ini:"jin yang masuk dalam tubuh seseorang itu akan menyebabkan dia berbicara dengan tidak runtun,tak lagi mengenali dirinya,bahkan untuk kasusu yang parah,dia bisa membunuh unta tanpa dia sendiri menyadarinya..."

Secara umum,kesurupan memiliki gejala atau ciri-ciri yang bisa dilihat dengan fisik maupun psikis.Orang awam pun dapat mendeteksi gejala atau ciri pada orang lain atau pada dirinya.

Berikut ini ciri-ciri yang terkena gejala gangguan jin:

I.secara fisik
1.pusing-pusing sebagian atau keseluruhan
2.leher berat/kaku
3.bahu,pundak selalu berat/pegal
4.nyeri,panas pada bagian tertentu
5.sakit pada perut/ulu hati
6.gangguan sekitar rahim,prostat,ginjal
7.pandangan mata kabur
8.mendengkur keras pada tidur atau gigi bergesekan
9.makan minum berlebihan
10.memiliki kekuatan fisik yang diluar kemampuan manusia normal pada umumnya
11.sakit pada jam-jam tertentu
12.sakit yang berpindah-pindah
13.sakit yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang

II.secara psikis
1.mudah dan sering marah/tersinggung
2.bingung dan sulit konsentrasi
3.sering bermimpi yang menakutkan/tidak menyenangkan
4.sering bermimpi di datangi binatang buas
5.sering bermimpi bertemu dengan orang yang sama
6.bermimpi terjatuh dari tempat yang tinggi
7.bermimpi berada di tempat yang bau busuk sekali
8.resah,takut,minder
9.sulit tidur/banyak tidur
10.malas beraktifitas dalam kebaikan
11.sering berprasangka buruk pada orang lain/was-was
12.mood tidak stabil
13.merasa ada bisikan di telinga/hati
14.pernah/sering mendengar letusan di atab rumah khususnya pada malam hari
15.bisa melihat makhluk halus/benda yang umumya tidak terlihat orang lain
16.selalu merasa ada yang mengikuti

III.secara ibadah
1.sering lupa jumlah rakaat shalat
2.terasa berat/ngantuk bila berzikir/membaca Al-Qur'an/ketiak hadir di pengajian
3.sering sulit bangun malam(tahajud)
4.sering tidak yakin bila berwudhu/was-was ketika sholat

IV.secara aktivitas sosial
1.terhalang rezekinya
2.sering gagal dalam mencari nafkah/kerjaan
3.terhalang jodohnya
4.dijauhi/dibenci rekan-rekan

apabila ada yang merasakan ciri-ciri di atas,saya sarankan:
1.Tiap malam sehabis shalat maghrib membaca istighfar 333x
2.Membaca Ayat Qursyi 400x sebelum tidur
3.Baca basmallah sebelum melakukan aktifitas

mungkin sedikit dari saya mengenai ciri-ciri orang terkena gangguan jin
segala sesuatu kembali pada yang di ATAS YANG MAHA KUASA...
Selengkapnya...

Kekasihku Jadi Penganten di Alam Gaib

Di Tanah Rencong ada kawasan yang bernama Gayo Luwes. Kawasan ini dikenal sebagai yang paling indah di pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Lembah-lembah dan ngarai yang menawan, fenomena birunya gunung-gunung, bukit-bukit yang permai, aliran-aliran sungai yang mengalir dengan tenang, senantiasa akan selalu memanjakan mata bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.

Saya dan orang tua sudah lama tinggal dihulu sungai Tripa yang letaknya tidak jauh dari Kutapanjang. Sebagai putera yang tetua dari pasangan T. Fauzi dan Aulia, pada usia yang relatif muda, saya telah meninggalkan bangku sekolah. Salah satu penyebabnya adalah karena situasi keamanan yang tidak menentu. Maklum saja, kala itu konflik antara TNI dan GAM. Operasi DOM (Daerah Operasi Militer) yang dicanangkan pemerintahan Soeharto tengah gencar-gencarnya dilancarkan.

Setelah berhenti sekolah, saya lebih banyak menghabiskan waktu membantu orangtua di sawah dan diladang guna menunjang kehidupan kami sekeluarga. Masalah pendidikan formal benar-benar telah terlupakan. Sampai menjelang usia 18 tahun, saya berkenalan dengan seorang gadis satu desa. Kami lalu menjalin hubungan asmara meski secara diam-diam.

Karena pergaulan muda-mudi di Bumi Serambi Mekkah memang tidak sebebas seperti di tempat-tempat lainnya yang ada di Nusantara, maka hubungan kami itu benar-bernar terjalin dengan amat rahasia. Namun, meski kami pacara secara “back street”, saya dan Sumarni, demikian nama cewek itu, telah sempat berjanji setia hidup semati dan sepakat untuk menikah dalam waktu dekat.

Hampir dua tahun kami pacaran. Malangnya, karena situasi dan keadaan, keluarga Sumarni tiba-tiba mendadak pindah ke Medan. Mungkin karena kepergiannya yang tergesa-gesa, Sumarni tidak pernah memberi kabar dan alamat tinggal keluarganya di ibu kota propinsi Sumatera Utara itu. Maka secara otomatis, sejak saat itu hubungan asmara kami putus begitu saja. Janji setia yang kami ikrarkan ternyata tinggal janji. Semua terlupakan begitu saja.

Beberapa waktu lamanya setelah perpisahan yang menyakitkan itu, saya juga mendengar kabar yang tak kalah menyakitkan. Melalui kerabat Sumarni di kampung, dikatakan bawah gadis yang amat kucintai itu akan segera menikah dengan seorang pemuda pilihan kedua orang tuanya.

Meski cobaan dating bertubi-tubi, namun dalam kamus hati saya sebagai seorang lelaki, tidak pernah ada istilah patah hati. Kendati demikian, rasa kecewa tetap saja mendera batinku, sehingga cukup lama juga saya memendam rasa kecewa dan kesal. Barangkali, hal ini yang kemudian membuat saya selalu ingin menyendiri dan suka termenung.

Siang itu, sekitar pukul 12, saya masih duduk menyendiri di atas sebongkah batu yang terletak di pinggir sungai Tripa. Keadaan begitu sepi dan lenggang. Hanya semilir angina yang mengempas dedaunan, gemuruh air dan kicau burung yang kudengar. Saya tak mempedulikan suara-suara itu. Pandangan mataku yang kosong menatap arus air yang jernih dan bening. Gemericik bunyinya mengalir di celah-celah batu alam yang besar-besar, bagaikan bersenandung nada-nada sendu dan syahdu tentang sekeping hati yang terluka. Terus terang, ketika itu saya memang masih sangat terpukul atas penghianatan sang kekasih.

Saya masih duduk melamun dis itu ketika tiba-tiba terdengar suara perempuan yang bernyanyi sebuah lagu rakyat Aceh dengan suara yang amat merdu. Saya begitu terpesona mendengarnya, dan segera berpaling ke arah datangnya suara. Sekitar 10 meter di sebalahku, saya melihat sosok seorang gadis belia sedang duduk diatas batu alam yang cukup besar dengan menjuntaikan kedua kakinya ke permukaan air. Anehnya, gadis itu sepertinya tidak mengenakkan busana walau sehelai pun alias telanjang.

Karena jaraknya cukup dekat, maka saya dapat dengan jelas menyakskan perempuan yang tidak memakai penutup dada tersebut. Memang payudaranya tidak kelihatan, karena dihalangi oleh rambutnya yang tergerai indah. Namun, pamandangan ini tak urung membuat jantungku berdegup 2 kali lebih cepat. Apalagi demi kusadari kalau tubuh gadis itu berkulit amat mulus, putih bak pualam.

“Siapa gerangan gadis itu? Mengapa dia telanjang di alam terbuka? Apa yang dicarinya?” Pertanyaan ini bertubi-tubi singgah di dalam benakku.

Anehnya, setelah kuperhatikan lebih cermat lagi, rasanya saya sangat mengenal gadis belia itu. Ya, dia sangat mirip dengan Sumarni, kekasih hatiku yang telah pindah ke Medan dan sebentar lagi akan menikah. Tapi yang mengherankan, mengapa dia berada di sungai ini? Apakah dia baru datang dari Medan dan ingin menemuiku? Kalau memang demikian, mengaku dia melakukannya dengan cara yang aneh, telanjang dan bernyanyi di sungai?

Untuk lebih memastikannya, saya segera bergerak turun untuk menemui gadis yang mirip Sumarni itu. Sebelum saya tiba di tempatnya berada, gadis itu sudah lebih dahulu menyingkir. Dia malah berenang ke tengah-tengah sungai menuju ke seberang.

Gadis dengan paras mirip Sumarni itu begitu pandai berenang di atas permukaan air yang mengalir amat deras di musim penghujan, hingga dalam waktu yang tidak terlalu dia sudah sama di seberang sungai. Saya berteriak-teriak memanggilnya. Sumarni tidak menjawab. Dia hanya melambaikan tangannya agar aku segera menyeberang. Akhirnya, aku pun segera berenang dan menyeberang kea rah tepian sungai tempat gadis itu naik ke darat.

Tubuh bagian belakangnya yang tak kalah indah itu masih sempat saya saksikan manakala dia berlari-lari kecil masuk ke dalam hutan. Karena penasaran, tanpa berpikir apa pun saya segea mengejarnya. Saya berlari mengikuti langkahnya yang meninggalkan bekas dijalan setapak.

Entah berapa lama kejar-kejaran itu berlangsung. Yang pasti, tanpa saya sadari, malam pun tiba. Memang sepertinya waktu berlalu begitu cepat. Meski kegelapan telah membungkus semesta jagat, namun cahaya bulan purnama masih mampu menerangi jalan setapak yang tengah saya lalui. Entah kenapa sedikit pun saya tidak merasa letih dan lelah. Saya masih terus mencari gadis yang amat mirip dengan Sumarni. Dan saya sama sekali tidak sadar bahwa sebuah keanehan telah terjadi.

Malam semakin larut, dan saya masih terus melacak gadis itu, ketika mendadak saya dikejutkan oleh ramainya suara ingar-bingar dan tawa canda. Sepertinya, ada pesta yang sangat meriah, seperti layaknya di tempat yang sedang berlangsung hajatan.

Saya segera berlari kearah sumber kemeriahan itu. Setelah mencari-cari dan coba memandang ke sekeliling dengan maksud ingin memastikan dari mana datangnya suara-suara tersebut, namun yang tampak hanya kegelapan dan kerimbunan pepohonan yang mengelilingi diri saya.

Setelah gagal menemukan gadis yang mirip dengan Sumarni, dan gagal pula menemukan pusat kemeriahan itu, maka sebuah kesadaran menelusup ke dalam hati sanubari saya. Ya, bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? “Pasti aku telah tertipu oleh sesuatu yang gaib!” Pikir saya dalam hati. Setelah sadar demikian, maka saya segera mengayunkan langkah untuk pulang. Namun anehnya, tak berapa lama kemudian di hadapan saya tampak sebuah daerah perkampungan.

“Kampung apa ini? Sepertinya aku belum pernah melihatnya?” Tanyaku dalam hati.

Ketika aku terus melangkah memasuki perkampungan itu, di salah satu rumah penduduknya nampak ramai dipadati oleh tamu, persis seperti layaknya orang yang sedang menghadari sebuah pesta. Di antara para hadirin itu ada yang asyik menari tarian daerah, dan ramai pula orang berjoged mengikuti irama lagu Melayu yang disuarakan oleh penyanyi wanita yang berdendang di atas panggung.

Entah bagaimana, saya sama sekali sulit menceritakannya secara persis, tiba-tiba saja ada dorongan dalam diri saya untuk bergabung dengan mereka berjoged gembira. Ya, mungkin hanya sekedar mencoba melupakan gadis belia yang mirip dengan Sumarni tadi. Tanpa berpikir panjang, kaki pun segera saya langkahkah ke arah keramaian itu.

Seharusbnya ketika itu saya heran karena ada perkampungan manusia yang berlokasi di lereng gunung yang cukup curam. Bahkan, sebagai seorang yang dilahirkan di wilayah itu, saya tidak pernah mendengar adanya perkampunagn ini.

Setelah puas berhoged melayu, entah mengapa tiba-tiba saya ingin mengetahui siapa gerangan yang tengah bersanding di pelaminan saat itu. Segera saya mendekat ke sana, dengan tanpa menghiraukan pandangan curiga orang-orang yang menatapku. Bahkan, saya bisa berhadapan langsung dengan kedua mempelai.

Untuk mengusir kecurigaan para tamu yang lain, saya segera menyalami kedua mempelai satu persatu. Pada giliran menyodorkan tangan ke arah mempelai wanita, sejenak saya tertegun dan terpana. Bahkan bingung. Kenapa tidak? Meskipun wajahnya sudah dirias sedemikian rupa, saya tidak bisa dibohongi kalau mempelai wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Sumarni, kekasihku.

“Kam…kamu…Su…Sumarni, bukan?” Sapaku setengah menggeragap.

Yang disapa tidak menyahut. Dia cuma menundukkan kepalanya. Namun, sesaat kemudian kulihat air matanya jatuh menetes membasahi baju pengantennya. Melihat hal ini, salah seorang pria setengah tua mengenakan pakaian yang agak aneh mendatangi saya.

“Anak muda…” bisiknya dengan cukup ramah. “Silahkan mengambil tempat duduk di kursi tamu yang masih kosong di sana!”

Meskipun pikiran dan perasaan berkecamuk, saya segera meninggalkan pelaminan tempat kedua mempelai bersanding. Kalau benar yang kulihat tadi adalah Sumarni, pacar dan kekasih saya yang pergi tanpa berita, dan saat ini sedang bersanding dengan pria lain, mengapa mereka mengadakan pesta perkawinan di kampung ini?

Pertanyaan tersebut masih terekam dibenak saya ketika seorang pelayan wanita membawakan minuman mirip sirup ke tempat saya duduk. Kebetulan saya memang sedang haus. Maka karena itu segera saja saya meminumnya. Tapi begitu tercium bau anyir seperti darah manusia, saya segera memuntahkannya.

Melihat sikap saya ini, orang-orang yang duduk di kanan-kiri terdengar tertawa sinis. “Ada apa, anak muda?” Tanya salah seorang dari mereka. “Apa kamu belum biasa minum sirup yang diracik dari darah manusia?”

“Benarkah minuman ini terbuat dari darah manusia?” Saya balik bertanya dengan takut dan jijik.

“Benar, kenapa?” Orang itu menatapku dengan tajam, seperti juga para hadirin yang lain.

“Artinya kalian disini setan-setan yang menyamar!” Saya segera bangkit dan ingin segera berlalu.

Namun salah seorang dari mereka segera menarik lengan saya agar tetap duduk. Lalu dengan setengah berbisik menjelaskan bahwa pesta yang tengah berlangsung tengah malam ini memang pesta setan.

“Belum lama ini ada rombongan pengantin pria dan wanita yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan di kampung seberang,” lanjut orang yang tadi, masih berbisik. “Tapi malang nasib mereka, kendaraan umum yang mereka tumpangi mengalami musibah masuk jurang dan semuanya tewas di tempat. Arwah-arwah mereka sepakat untuk mengadakan pesta di kampung ini yang dikenal sebagai Kampung Orang Bunian. Aku termasuk salah seorang korban kecelakaan tersebut!”

“Jadi mempelai wanita itu memang Sumarni?” Tanya saya ingin memastikan.

“Benar, anak muda! Apa kamu mengenalnya?”

“Ya, dia pacar saya!”

“Kasihan dia, dipaksa kawin oleh orangtuanya!”

Saya masih kebingunan ketika tiba-tiba orang disekitar berubah wujud menjadi kerangka tengkorak hidup yang menyeramkan. Dan ketika pandangan saya arahkan ke pelaminan, kedua mempelai juga telah berubah seperti itu.

Sebelum saya jatuh tak sadarkan diri, gadis belia bugil yang saya temui dipinggir sungai Tripa dan berparas mirip Sumarni tersebut, mendadak muncul di hadapan saya. Akhirnya saya pun jatuh pingsan.

Begitu siuman, saya sudah berada di rumah orangtua, dan terbaring di tempat tidur. Sanak keluarga semuanya mengucap rasa syukur sebab saya bisa selamat setelah tiga hari hilang dan ditemukan tergolek di dalam jurang yang angker.

Setelah peristiwa aneh ini, hampir sebulan saya tidak bisa diajak bicara. Dan saya sangat bingung ketika sanak keluarga menanyakan hal macam-macam. Misalkan saja, kenapa saya bisa berada di dasar lembah yang curam dengan tanpa luka sedikitpun?

Setelah saya sadar secara utuh, seorang dukun mengatakan, bahwa saya kerasukan makhluk halus penunggu sungai Tripa yang berwujud seorang gadis yang menyerupai Sumarni, kekasihku

Tapi benarkah mempelai wanita itu adalah Sumarni, yang telah mengalami kecelakaan bersama anggota rombongan yang lain. Kabar yang kemudian kudengar memang demikian. Setelah beberapa waktu pindah ke Medan, Sumarni akhirnya dijodohkan dengan pria asal Aceh, yang tinggal tak jauh dari kampong tempat saya tinggal. Malangnya, ketika rombongan pengantin melewati kawasan Gayo Luwes, kendaraan minibus yang mereka kendarai terjun ke jurang, dan tidak seorang pun yang selamat. Bahkan, mayat-mayat mereka hingga kini belum ditemukan, seolah lenyap tanpa bekas.

Beberapa waktu setelagh sembuh, di suatu malam, saya mimpi didatangi seorang gadis belia yang mirip Sumarni. “Kamu jangan menyalahkan Sumarni…” Ujar si gadis dalam mimpi itu. “Kekasihmu itu seorang gadis yang setia. Dan dia kini sudah tenang di alam sana. Pesta perkawinan yang kau lihat dikapung orang bunian yang kamu saksikan itu merupakan rekayasa setan belaka!”

Selengkapnya...

Pemilik Aji Pancasona Mayatnya Digantung


Di jalan Melati, Blitar, Jawa Timur, ada sebuah makam tua yang lebih dikenal dengan nama makam Gantung. Predikat yang melekat pada makam tua ini, sangat singkron dengan kondisi makam tersebut.

Pasalnya, makam ini memang dalam posisi tidak menyentuh tanah. Karena itu, masyarakat Blitar menyebutnya dengan nama, Makam Gantung. Keunikannya, tak sedikit para penjiarah yang datang ke makam Bung Karno, menyempatkan diri berjiarah ke makam gantung.

Selain mendoakan tokoh sakti yang makamnya tidak menyentuh tanah ini, mereka sengaja ingin menyaksikan keunikan dari makam itu. Apalagi, jarak makam Bung Karno dengan makam gantung, hanya terpaut sekitar satu kilometer.

Eyang Joyodigo, inilah nama tokoh sakti yang makamnya dibuat itidak menyentuh tanah. Menurut penuturan juru kunci makam gantung, Biran, 74 tahun, semasa hidupnya, Eyang Joyodigo dikenal sebagai satu-satunya tokoh pada zamannya yang memiliki ilmu Aji Pancasona. Yakni, ajian yang ketika mati dapat hidup kembali asal jasadnya menyentuh tanah. Karena itu, ketika tokoh ini meninggal di usia senja, kemudian makamnya dibuat tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan kedalam peti besi, kemdian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi.

Karena makamnya tidak menyentuh tanah, walau jasadnya disangga dalam peti besi, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Makam Gantung. Sedangkan di bawah serta di kiri-kanannya, dimakamkan para keluarga Eyang Joyodigo.

Masih menurut penuturan juru kunci, dalam epos Ramayana, saat itu hanya satu yang memiliki Aji Pancasona, yakni saudara kembar Sugriwo yang bernama Subali. Keduanya, berasal dari bangsa kera.

Namun, karena rayuan Rahwana, kemudian ilmu Aji Pancasona jatuh ke tangah raja dari Alengka ini. Lalu bagaimana Aji Pancasona bisa dikuasai oleh Eyang Joyodigo?

Menurut juru kunci lagi, semasa hidup, tokoh ini dikenal suka laku tirakat. Berbagai macam ilmu telah dikuasai. Termasuk Aji Pancasona. Bahkan gurunya, tak hanya dari bangsa manusia saja. Tapi ada juga yang berasal dari bangsa lelembut. Tak heran, jika Eyang Joyodigo bisa menguasai ilmu Aji Pancasona yang pemilik aslinya, tinggal cerita.

“Beliau semasa hidupnya, berguru sosok gaib pemilik pertama Aji Pancasona,” terang juru kunci yang juga mantan tentara PETA.

Lalu siapa sebenarnya Eyang Joyodigo? Sebagaimana yang dituturkan Biran kepada Misteri, tokoh ini dulunya sahabat dekat Pangeran Diponegoro. Tak hanya sahabat juga, karena Joyodigo juga trah darah biru dari Mataram.

Dan pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Penyebabnya, pihak keraton bagi Diponegoro, terlalu merendahkan martabatnya. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena kemurahan hati Belanda.

Tak hanya itu, yang membuat darah Diponegoro mendidih. Saat itu, kekuasaan raja-raja di tanah Jawa terus dipersempit. Apalagi, kekuasaan raja disamakan dengan kedudukan pegawai tinggi pemerintahan Kolonial. Bahkan, pemerintah kolonial terlalu jauh mencampuri urusan keraton dengan cara ikut campur dalam hal pergantian raja.

Lebih menyakitkan lagi bagi Diponegoro, pihak Belanda memungut pajak jalan, ternak, rumah, serta hasil bumi kepada rakyat jelata. Karena itu, ketika kompeni membuat tanda tapal batas untuk jalan yang melewati tanah leluhurnya, tanda tapal batas itu langsung dicabut.

Dengan begitu, api peperangan telah tersulut. Selama dalam masa peperangan yang berlangsung lima tahun (1825-1830), salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang setia yakni, Joyodigo. Bersama Diponegoro, Joyodigo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Tak hanya sekali, tokoh sakti ini tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang oleh Belanda, Joyodigo hidup lagi tanpa sepengetahuan kompeni.

Hingga pada akhirnya, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap karena siasat licik pihak kompeni. Namun, walau Pangeran Diponegoro telah diasingkan ke Makasar setelah tertangkap, bukan berarti darah pejuang Joyodigo padam.

Walau saat pecah perang Pangeran Diponegoro, usianya masih menginjak sekitar 30-an, namun dia terus melakukan perang gerilya bersama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Namun, karena saat itu wilayah Yogyakarta terlalu banyak penjagaan oleh kompeni, Joyodigo memilih perang gerilya menuju arah timur.

Singkat cerita, dalam perjalanannya ke arah timur, setiap pos Belanda yang lengah, pasti diserang. Hingga pada akhirnya, sampailah Joyodigo di wilayah Blitar. Di kota ini, tanpa sepengetahuan pihak penguasa Blitar saat itu, Joyodigo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Merasa wilayahnya aman dari pemerasan kompeni, kemudian Adipati Blitar saat itu, mengirim pasukan telik sandi (intel) untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat takut kompeni di wilayah Blitar.

Hingga pada akhirnya, telik sandi yang dikirim oleh sang Adipati, menemukan Joyodigo di sebuah hutan yang masuk Blitar Selatan. Atas perintah Adipati Blitar, telik sandi mengundang Joyodigo untuk datang ke pendopo.

Namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak dengan halus. Alasannya, Joyodigo saat itu, masih sibuk melatih laskar untuk mengusir kompeni.

Karena penolakan halus dari Joyodigo ini, kemudian telik sandi langsung pulang dan melapor kepada Adipati. Dua tahun kemudian, Adipati Blitar kembali mengirim utusan. Saat itu, patih di kadipaten Blitar mangkat dan harus segera dicarikan pengganti.

Maksud Adipati mengirim utusan yang kedua, agar Joyodigo bersedia menjadi patih di kadipaten Blitar. Dan karena banyak pihak kompeni yang meninggalkan Blitar lantaran serangan gerilya pasukan Joyodigo, tokoh ini bersedia menerima tawaran Adipati Blitar.

Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton, ketika diangkat menjadi patih di kadipaten Blitar, Joyodigo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Patih Joyodigo mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap.

Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya tanah perdikan yang sekarang berada di Jalan Melati, Kota Blitar. Di tanah perdikan ini, Joyodigo kemudian membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya dan diberinya nama Pesanggerahan Joyodigo.

Rumah yang didirikan oleh Joyodigo tersebut, hingga kini masih berdiri kokoh. Sebagai manusia biasa, walau mempunyai Aji Pancasona, Joyodigo akhirnya wafat pada tahun 1905 diusia seratus tahun lebih.

Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan ke dalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi seperti yang tampak sekarang ini.

“Di usia yang sudah lebih seratus tahun, kan kasihan kalau Eyang terus menerus hidup lagi setelah meninggal. Karena itu, makamnya dibuat menggantung agar tidak menyentuh tanah. Kalau asal-usulnya ya, seperti yang saya katakan tadi. Eyang Joyodigo merupakan keturunan darah biru dari Mataram dan pernah menjadi patih di Kadipaten Blitar sini. Kalau saudara beliau, mantan bupati Rembang yang juga suami dari RA. Kartini,” terang juru kunci yang telah menjaga makam Eyang Joyodigo lebih dari 20 tahun.

Sebagai makam seorang tokoh sakti pada zamannya, kini makam Eyang Joyodigo pada hari-hari tertentu banyak didatangi oleh para peziarah. Terutama yang datang dari kalangan spiritualis. Beda dengan para peziarah biasa, kaum spiritualis ini datang ke makam Eyang Joyodigo dengan maksud tertentu, yakni ingin berguru kepada Eyang Joyodigo dengan cara gaib. Tujuannya, agar mendapat titisan ilmu Aji Pancasona.

Menurut juru kunci, hingga kini, tak seorangpun spiritualis yang berhasil mendapatkan titisan ilmu Aji Pancasona dari Eyang Joyodigo. Jangankan diberi titisan ilmu Aji Pancasona, diberi ilmu yang kesaktiannya dibawah Aji Pancasona saja tidak. Bahkan tak jarang, para spiritualis yang sedang menjalani laku di makam Eyang Joyodigo, justru diusir dengan suara tanpa rupa.

“Apa dikira mudah belajar ilmu Pancasona. Karena salah satu syaratnya yaitu harus bertapa Ngalong, menggantung di pohon dengan kepala di bawah selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum. Yang datang ke sini itu kan cuma spiritualis masa kini. Mereka bukannya mendapat ilmu, tapi justru diusir,” papar juru kunci sembari tertawa.

Bagi masyarakat Blitar, selain makam sang Proklamator, makam Eyang Joyodigo juga dikeramatkan. Sebagai makam yang dikeramatkan, menurut Boiran, makam Eyang Joyodigo dijaga dua sosok gaib berwujud dua binatang besar, yakni seekor ular sebesar batang pohon kelapa, serta seekor harimau loreng sebesar anak sapi.

Menurut juru kunci lagi, tak hanya dirinya saja yang pernah melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud binatang itu. Konon, tak sedikit para peziarah, khususnya kaum spiritualis, yang melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud ular dan harimau itu.

Masih menurut Boiran, sebenarnya dua sosok gaib penjaga makam ini, dulunya merupakan pengawal pribadi Eyang Joyodigo semasa hidup yang berasal dari bangsa lelembut berwujud binatang.

Karena kesetiaannya kepada majikan, hingga Eyang Joyodigo wafat, kedua sosok gaib itu masih setia menunggui makam majikannya.

Selengkapnya...

Jin Haus Seks

Muara Sungai Limbangan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa pantai utara (Pantura) Jawa Barat, memang kurang begitu populer dalam hal aktivitas transportasi laut. Begitu pula aktivitas bongkar muat ikan maupun transaksi para bakul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), di tempat ini juga kurang begitu ramai. Berbeda dengan muara-muara lain yang ada di sepanjang pantai Kabupaten Indramayu maupun Cirebon, seperti muara Eretan, muara Karangsong, muara Dadap, ataupun muara Bondet. Di muara-muara itu setiap hari selalu ramai aktivitas lelang ikan hasil tangkapan para nelayan.

Tetapi dalam hal keangkerannya, muara yang terletak di Desa Limbangan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu itu jauh lebih terkenal dibanding muara-muara lainnya. Informasi yang diserap Misteri, konon muara ini berpenghuni jin laut berilmu tinggi.

Hasil penelusuran paranormal setempat terungkap, kalau penghuni muara itu bergelar Nyai Limbangan. Dia tidak punya pasangan alias lajang sepanjang hidupnya, kini umurnya diperkirakan sudah ribuan tahun. Karena masih lajang, maka untuk memuaskan nafsu syahwatnya, jin kafir ini kerap menjelma menjadi sosok wanita jelita yang sewaktu-waktu berbaur dengan aktivitas para jablay (pelacur).

Si jelita penjelmaan mahluk alam gaib itu kerap menggoda Anak Buah Kapal (ABK) yang secara kebetulan merapat di TPI sekitar muara. ABK yang menyangka wanita itu jablay, setelah dicapai kesepakatan transaksi imbalan jasa pemuas syahwat, tidak sungkan-sungkan melakukan hubungan badan di tempat gelap.

Kalaupun tidak mendapatkan sasaran dari kalangan ABK, jin berwujud wanita jelita umur 30-an tahun itu kelayapan ke gubuk-gubuk tempat istirahat penjaga (centeng) tambak udang yang bertebaran sekitar ratusan meter dari muara. Sama halnya ABK, centeng maupun majikan pemilik tambak udang menyangka wanita yang menghampiri gubuknya itu jablay yang biasa keliaran di kawasan tambak hingga terjadilah transaksi.

Lambat laun, kebiasaan wanita misterius itupun dicurigai kalangan ABK maupun para centeng tambak udang. Apalagi belakangan muncul kabar, seusai berhubungan badan, wanita itu langsung menyelinap keluar gubuk lalu menghilang tanpa berupaya meminta uang jasa pelayanan yang sudah disepakati sebelumnya. Kecurigaan yang disebar melalui bisik-bisik antar sesama hidung belang itupun akhirnya menjadi rahasia umum, bahkan menjadi momok bagi kaum Adam di daerah itu.

Bukan hanya tidak meminta imbalan, sejumlah ABK yang melakukan hubungan badan dengan wanita misterius itu, keesokan paginya ditemukan keanehan di mana pada ujung kemaluannya keluar lendir putih berbau busuk. Meskipun tidak berbahaya, keluarnya lendir berbau busuk itu tetap saja meresahkan pikiran lelaki bersangkutan, tentu saja mereka khawatir tertular penyakit kelamin.

Sewaktu Misteri menyambangi lokasi yang disebut-sebut warga sangat angker itu, memang terbukti. Aura jahat terasa begitu kental. Bahkan, biarpun baru menjelang Maghrib, sesekali berkelebat bayangan aneh yang kurang begitu jelas di tengah-tengah muara seluas kurang lebih lima hektar itu.

Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan buruk, ikut pula mendampingi Misteri Ustadz Mudin, 38 tahun tahun, warga Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu. Ulama hikmah jebolan Pondok Pesantren Riyyadlus Solihien, Barugbug, Ciomas, Banten ini tanpa diminta langsung memejamkan matanya, dan bibirnya komat-kamit membaca doa. Sesaat berikutnya, dia mengangguk-anggukkan kepala layaknya orang sedang ngobrol.

Adegan itu berlangsung sekitar lima menitan. Lalu dia mengusapkan sepasang telapak tangannya ke wajah.

“Barusan saya berdialog dengan jin penghuni muara ini. Dia punya gelar Nyai Limbangan. Umurnya mungkin sudah ribuan tahun dan hingga sekarang dia menjadi tetua di alam gaib muara sini,” urai Ustadz Mudin dengan suara dipelankan.

Untuk merangkum berbagai peristiwa mistis di sekitar muara Sungai Limbangan, butuh investigasi panjang. Satu pekan lebih berbaur dengan kalangan ABK, centeng dan juragan tambak udang termasuk dengan pamong desa setempat. Hasilnya cukup memuaskan.

Wardoyo, 36 tahun, seorang nakhoda Kapal Motor Nelayan (KMN) asal Desa Juwana, Tegal, Jawa Tengah, yang langganan bongkar hasil tangkapan ikan kembung di TPI Limbangan mengaku pernah berkencan dengan wanita misterius.

Diceritakan Wardoyo, pada penghujung musim angin barat dan memasuki musim angin timur kemarin, KMN yang dia nakhodai kelimpahan hasil tangkapan ikan kembung. Ikan bernilai ekonomis tinggi itupun langsung dibongkar dan dilelang di TPI Limbangan.

Seperti biasanya, selesai menerima bayaran dari bakul, KMN dia sandarkan di bibir jetty, lalu dia dan kelima ABK-nya berburu kepuasan. Kepuasan kalangan ABK dan nakhoda, terutama minuman keras dan kencan dengan jablay. Bukan rahasia lagi jika di sekitar TPI, pada malam hari berkeliaran wanita-wanita jablay penjaja kehangatan syahwat.

Naas bagi Wardoyo, akibat terlalu banyak KMN yang merapat, dia kesulitan menemukan wanita jablay, akibatnya dia bertekad menghabiskan malam dengan minum-minuman keras di warung remang (warem) sekitar TPI.

Lepas tengah malam, laki-laki berkulit hitam itu melangkah sempoyongan menuju jamban untuk buang air kecil. Usai buang hajat kecil dia bermaksud kembali ke dalam warung. Namun saat memutar badan, beberapa langkah di depannya sudah berdiri seorang wanita. Lewat bantuan cahaya warem, Wardoyo mengucak-ucak matanya untuk meyakinkan kalau wanita di depannya itu benar-benar cantik, serta usianya masih cukup muda. Sekitar 30-an tahun.

Ditatap lekat-lekat, wanita itu bukannya takut, melainkan melempar senyum ramah. Tentu saja Wardoyo gelagapan. Perkenalanpun berlangsung singkat, bahkan berlanjut ke soal transaksi seksual. Setelah disepakati bayaran 100 ribu untuk shot time, Wardoyo dan wanita cantik itu terlibat kencan di balik gelapnya dinding TPI.

Usai hubungan intim, wanita itu ngeloyor meninggalkan Wardoyo yang menggelosoh kelelahan di lantai keramik. Dia menyangka wanita itu mau cebok di kamar mandi warem. Ditunggu belasan menit, tidak juga kembali, padahal uang upah jasa belum sempat diberikan.

Biarpun penuh tanda tanya, Wardoyo melangkah menuju warung. Ketika ditanyakan kepada rekan-rekan di warung, mereka mengaku tidak pernah melihat lewatnya seorang wanita. Keanehan itupun langsung disimpan rapih di dalam hati.

“Besoknya, saat nyong (aku) mengemudikan kapal, terasa ada cairan keluar dari kemaluan. Semula nyong sangka air kencing, tapi tercium bau busuk,” kata Wardoyo.

Karena penasaran, Wardoyo memeriksa organ intimnya. Didapatinya lendir pada celana dalamnya. Saat lendir itu dicium, dia kaget bukan kepalang, sebab baunya sangat busuk. Secara spontan, dia curiga kalau dirinya tertulari penyakit kelamin dari wanita jablay yang dia kencani semalam. Ternyata lendir busuk itu hanya keluar selama satu hari, keesokan harinya, tidak ada lagi lendir yang keluar.

Terkait lendir busuk yang diceritakan Wardoyo maupun sejumlah ABK lain, menurut analisa Ustadz Mudin, lendir itu tidak lain kotoran tubuh jin yang disetubuhi bangsa manusia. Karena berbeda bangsa, kotoran itupun tidak bisa bertahan di organ intim manusia sehingga meleleh keluar.

Peristiwa gaib paling fenomenal dialami Durokim, 40 tahun. Peristiwanya berlangsung sewaktu Durokim alias Okim masih menjabat Kepala Desa (Kades) Limbangan, Kecamatan Juntinyuat.

Diceritakan Okim, meski menjabat Kades, bagi dia tidak mungkin menutupi biaya dapur serta anggaran pengeluaran kantornya jika hanya mengandalkan penghasilan dari jabatannya. Akibatnya dia mesti memanfaatkan paruh waktunya untuk berbisnis.

Rupanya, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya, sehingga bisnis Kades Okim mengalami kebangkrutan. Untuk menutup kerugian, terpaksa kendaraan pribadi berupa Isuzu Panther yang disayangi mesti dilego.

Setelah kebangkrutan bisnis, ekonomi keluarga Okim morat-marit sedangkan penghasilan dari jabatannya sebagai Kades sangat tidak menentu, ditambah utangnya disana-sini. Belum lagi anggaran tak terduga yang mesti dianggarkan untuk menolong warga yang rumahnya tersapu ombak. Memang, ombak besar musim angin barat, tercatat sudah menghancurkan rumah warga yang posisinya paling mepet ke bibir pantai.

Saat itu harapan satu-satunya hanya dari panen tambak udang peninggalan orangtuanya. Namun, dua hektar tambak yang dia andalkan juga tidak dapat menolong. Virus brontok membantai udang di areal miliknya tanpa sisa, sehingga ratusan juta rupiah uang yang dia tanam di areal tambaknya amblas begitu tanpa bekas.

Gempuran demi gempuran persoalan mendorong Okim menempuh jalur berbau mistis. Secara kebetulan, sebelumnya dia sudah belasan tahun mendalami ilmu kebathinan bersumber dari Tharikat Sobariyah. Berkaitan dengan gagal panen udang windu, Okim berniat mengundang Nabi Khidir As yang dikenal sebagai penguasa samudera.

Untuk tujuan berbau gaib itu, Okim mengadakan ritual seorang diri di dalam gubuk yang berada di ujung tambak udangnya. Tambak udang Okim berada pada hamparan bagian timur sehingga berbatasan langsung dengan muara Sungai Limbangan. Dalam ritualnya itu diiringi puasa ngasrep (berbuka hanya nasi dan air putih) serta tidak putusnya membaca wirid khusus pengundang Nabi Khidir AS. Dia bertekad menjalani ritualnya sampai benar-benar bertemu langsung dengan Nabi Khidir AS.

Memasuki ritual malam ke-9, Okim mengalami peristiwa paling hebat sepanjang hidupnya. Seperti malam-malam sebelumnya, dia memulai wirid selepas tengah malam di dalam gubuk temaram karena tanpa diterangi lampu selain cahaya bulan yang menerobos rongga anyaman bambu.

Entah sudah berapa jam dia duduk bersila di atas hamparan sejadah, dia merasakan suasana lain. Ruangan gubuk terasa pengap dan gelap, lantaran di langit sudah ditebali mendung hitam. Guntur sayup-sayup menggema ditingkahi deru ombak pantai membentur dinding muara.

Okim tetap wirid serta berjuang keras agar tetap konsentrasi terhadap proses ritualnya dengan kepala menunduk tajam. Seusai gelegar guntur, disusul gemuruh badai dari arah utara tepatnya dari arah Laut Jawa. Akibat situasi sangat mengerikan, Okim mengangkat kepalanya menengok ke lobang jendela samping kanan.

Saat itulah jantungnya berdetak sangat cepat manakala di kejauhan terlihat kabut bergulung-gulung dari muara, seakan meluruk ke arah gubuk. Ada yang ganjil pada kabut tersebut, jika di daerah pegunungan warnanya putih, justru kabut yang datang meluruk itu berwarna biru kekuningan.

Di saat yang sama, bau kemenyan lebih dulu menerobos memasuki ambang jendela tanpa daun itu. Okim sempat terbatuk saat hidungnya menghisap bau ganjil itu dan bulu sekujur tubuhnya serempak berdiri.

Tak tahan suasana mencekam, tatapannya dia pindahkan dari ambang jendela menuju ke ambang pintu yang juga tanpa daun. Spontan Okim terlonjak kaget, manakala tepat di ambang pintu sudah berdiri wanita bergaun biru. Kain yang dikenakan sangat tipis, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh serta tonjolan sepasang payudara yang indah. Wanita itu menyapa dengan seulas senyum.

Senyuman wanita jelita itu membuat pria beranak dua itu pun terpana tanpa mampu untuk membalas. Wanita itu mengayun langkah gemulai memasuki ambang pintu menuju Okim yang tetap duduk di atas sejadah. Jarak satu langkah, dia menghentikan langkah seraya mengenalkan diri sebagai Rusminah bergelar Nyai Limbangan.

Okim yang tengah terpana oleh paras jelita tidak mampu menanggapi ucapan perkenalan itu. Namun, meski diacuhkan, Rusminah tidak tersinggung, bahkan dia mengatakan sanggup menyelesaikan seluruh persoalan hidup yang melilit Okim. Dia berjanji akan mengirim uang dalam jumlah banyak sesuai yang diinginkan, dengan syarat mau berhubungan badan.

Tanpa menunggu jawaban okim, Rusminah pelan-pelan melepas gaun tipisnya sehingga tubuhnya benar-benar polos. Menyaksikan pemandangan indah di depannya, membuat Okim kian terpana. Dengan gerakan berirama, wanita itu meremas sepasang bukit di dadanya seraya bibirnya mendesah.

Mendapatkan godaan birahi yang sangat dahsyat, Okim berulangkali mengerjapkan sepasang matanya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya iman laki-laki jebolan pesantren itu benar-benar kokoh hingga sulit ditembus godaan macam apapun. Ajakan wanita itu dia abaikan, bahkan dia tersurut mundur manakala wanita itu terlihat hendak menubruknya.

Okim terus mundur hingga keluar sejadah bahkan punggungnya membentur dinding bilik di belakangnya. Tasbih yang semula tidak pernah lepas dari jemarinya, kini jatuh di atas tanah. Keringat dingin pun membasahi kening dan sekujur tubuhnya.

Mendapatkan reaksi di luar dugaan, rupanya wanita dari alam gaib itu sadar dirinya ditolak. Rusminah pun murka tak terkendali. Dari lubang mulut dan hidungnya keluar suara geraman bengis.

Okim mengamati lebih teliti, wajah di depannya berubah 180 derajat, bertolak belakang dengan wajahnya saat baru muncul tadi. Paras yang semula elok rupawan perlahan-lahan berubah menjadi wajah ular dengan sepasang mata kecil memancarkan cahaya redup kemerahan. Lidah bercabang dua menjulur keluar-masuk di antara sepasang taring runcing mengkilat. Tubuh polos yang semula kuning langsat, berubah gelap penuh sisik tebal menebarkan bau amis menyengat.

Langkah makhluk menyeramkan itu tertuju ke arah pojok gubuk. Karuan, tubuh Okim menggigil ketakutan. Saat mahluk mengerikan itu makin dekat, Okim dapat menangkap bahaya mengancam jiwanya. Tanpa pikir panjang, dia pun dengan sekuat tenaga menerjang ke samping hingga menjebol dinding anyaman bambu.

Tubuh kerempengnya berguling-guling di luar gubuk, lalu bergegas bangkit dan mengedarkan pandangan ke berbagai arah. Saat itulah dia terbengong, sebab, dia tidak melihat ada kabut biru kekuningan yang meluruk ke arah gubuk. Okim juga tidak melihat sosok mahluk berkepala ular yang beberapa saat lalu hendak menerkamnya.

Dengan gontai, Okim melangkah sempoyongan menuju rumahnya sambil menggerutu lantaran telah gagal bertemu dengan Nabi Khidir.

Selengkapnya...

Ritual Awet Muda

Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sejak dulu memang identik dengan dunia prostitusi. Tudingan miring tersebut ternyata bukan isapan jempol semata. Faktanya, memang demikian adanya. Dari berbagai catatan perdagangan perempuan di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri yang berhasil dihimpun aparat kepolisian dan sejumlah LSM diketahui, bahwa Indramayu termasuk dalam urutan pertama sebagai daerah pemasok wanita yang siap dijadikan pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai pekerja seks komersial alias PSK.

Data tersebut semakin diperkuat dengan merebaknya tempat-tempat prostitusi yang ilegal atau legal, dari kelas kakap sampai kelas kambing, yang banyak bertebaran di hampir setiap sudut wilayah Indramayu. Sebut saja di Sukra, Karangampel, Haurgelis, Cangkingan, Anjatan, Legok, Sukahaji, Cilegeng Indah, Gantar, Kalimenir, Kandanghaur, Sliyeg, dan beberapa di wilayah Indramayu kota.

Di beberapa wilayah tersebut, prostitusi seakan sudah menjadi semacam tumpuhan harapan dari kesulitan ekonomi. Masyarakat sudah maffum, meski mayoritas dari mereka adalah penganut agama Islam yang terbilang taat. Rumah-rumah bedeng semi permanen yang dihuni puluhan wanita nakal lengkap dengan fasilitas esek-esek dibangun di samping masjid atau mushola merupakan pemandangan biasa yang tampak di wilayah ini. Satu contoh seperti di Desa Cangkingan, Kecamatan Karangampel.

Di daerah ini puluhan warung malam remang-remang bertebaran. Di depan warung yang rata-rata berukuran 3 x 5 meter itu, terpancang panggung kecil sebagai tempat berjoget dengan iringan musik dangdut dari tape recorder. Warung-warung ini juga memajang gadis-gadis belia berparas ayu, berusia 13 hingga 15 tahun. Sebagian besar di antara mereka masih duduk dibangku SLTP. Malah ada yang masih SD kelas VI.

Perawan-perawan cilik tersebut biasa disajikan untuk menemani minum bir para lelaki pengunjung warung, serta sesekali berjoget hingga larut malam. Meski usianya masih sangat belia, namun mereka amat mahir dalam merayu tamunya agar minum sampai teler, lalu memberikan tips dalam jumlah besar. Walau demikian, mereka selalu menolak setiap diajak ngamar.

Kabarnya, warung-warung malam di Desa Cangkingan inilah yang disebut sebagai tempat magang gadis Indramayu untuk dididik sebagai wanita penghibur profesional di kota-kota besar, bahkan hingga ke luar negeri.

Berbagai hasil penelitian menyebutkan, tingginya angka prostitusi dan perdagangan perempuan di Indramayu lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Sedang sebagian kecil lainnya karena terpengaruh tradisi kawin di usia muda, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.

Menurut pengamat masyarakat Indramayu, Hasan Alkarim, cewek Indramayu terperosok ke dalam jurang pelacuran sudah sejak era 1960 silam. Pada waktu itu, keadaan Indramayu sedang dilanda paceklik. Ratusan hektar sawah gagal panen. Masyarakat yang sebelumnya sudah berharap dapat hasil melimpah ternyata harus gigit jari. Kekeringan dan kelaparan terjadi di mana-mana.

Kondisi yang buruk itu mengakibatkan banyak masyarakat Indramayu yang memilih hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Yang pria menjadi buruh kasar, sedangkan wanitanya memilih menjadi PSK, karena dianggap lebih mudah dan menguntungkan.

“Sesuai catatan sejarah seperti itu. Seandainya Indramayu tidak pernah dilanda paceklik mungkin ceritanya jadi lain,” kata Hasan kepada Misteri.

Selain faktor tersebut, di Indramayu juga mengenal sistem kawin di usia muda. Seakan sudah menjadi tradisi, setiap menjelang dan masa panen, kaum laki-laki muda bersiap-siap mencari pasangan. Pun demikian dengan kaum wanitanya. Keinginan itu ditunjang dengan penghasilan dari panen padi yang jika dirupiahkan angkanya mencapai miliaran, karena rata-rata penduduk Indramayu memang memiliki lahan sawah lebih dari satu hektar.

Tradisi mencari jodoh itu terus berkembang dari generasi ke generasi, hingga tak heran jika di daerah-daerah tertentu terdapat lokasi khusus untuk para pencari jodoh. Tempat tersebut biasa disebut orang Indramayu sebagai Pasar Jodoh. Di Pasar Jodoh inilah mereka tak hanya sekedar bertemu dan berkenalan, melainkan juga menghibur diri, karena Pasar Jodoh di Indramayu kondisinya mirip dengan pasar malam yang biasa nampak di daerah-daerah lain.

Dalam ajang Pasar Jodoh itu setiap pasangan yang sudah menemukan jodohnya masing-masing selalu mengikat janji untuk menikah, meski tanpa persiapan dan tentu saja tidak ada cinta dan kasih saying yang kuat. Akibatnya, sudah bisa diduga. Dalam beberapa waktu selanjutnya, angka perceraian pun akan terus membengkak.

“Nah, janda-janda inilah yang kemudian banyak terjun menjadi PSK,” ujar Hasan menegaskan.

***



Namanya bekerja sebagai pelacur, tentu tidak perlu persyaratan yang njlimet dan aneh-aneh. Cukup dengan modal wajah cantik, bodi mulus serta kenekadan yang tinggi. Hanya dengan itu duit dalam jumlah banyak akan mudah diraup dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pelacur-pelacur yang sudah berhasil ini, manakala pulang kampung biasa mengiming-imingi setiap wanita di kampungnya yang masih belum memiliki kekayaan cukup. Iming-iming itulah yang akhirnya menjadikan arus urbanisasi pelacur dari Indramayu terus bertambah. Karena, bekerja menjadi pelacur bisa mendatangkan uang cukup banyak dalam waktu yang tidak terlalu lama dan kerjanya juga ringan.

Pola pikir masyarakat Indramayu pun pada gilirannya berangsur-angsur menganggap prostitusi bukan lagi sesuatu yang tabu. Malah di beberapa daerah pelosok Indramayu, banyak orang tua yang justru merasa bangga jika anaknya memiliki wajah cantik, karena itu berarti aset yang bisa dijual. Tak heran jika banyak orang tua dari Indramayu justru mengantarkan sendiri anaknya ke Jakarta atau kota-kota lain untuk dijadikan PSK.

Pola pikir yang sudah mengesampingkan moral dan tatakrama itulah yang hingga kini dijadikan makanan empuk bagi para makelar wanita untuk lebih leluasa bergerilya mencari mangsa di Indramayu. Para pedagang perempuan itu berani mengikat orang tua yang punya gadis belia dengan panjar uang yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Teknik jemput bola yang diperagakan oleh kelompok mafia ini ternyata disambut baik oleh sebagian besar orang tua di Indramayu. Akibatnya, prostitusi dan perdagangan perempuan di wilayah ini seakan tak akan pernah bisa diberantas. Bahkan, aparat kepolisian dari Mapolres Indramayu yang sudah berkali-kali melakukan razia dengan sandi Operasi Pekat pun seakan tak mampu menekannya.

Memang, pelacuran di Indonesia sudah merebak sejak Tanam Paksa pada zaman penjajahan Belanda, ketika kapitalisme Eropa mulai berkembang. Tradisi Dewi Seks yang berkembang di Asia juga turut mempengaruhi, hingga tanpa satu hukum pun mampu menghentikannya. Kondisi ini dilandasi kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak-anak perempuan usia muda, khususnya yang masih perawan, belum tersentuh laki-laki, akan membuat laki-laki menjadi awet muda, lebih kuat, malahan menyembuhkan penyakitnya.

Mitos seperti ini terus dihidup-hidupkan dengan berbagai cara oleh para trafficker, yakni orang-orang yang berada dalam mata rantai perdagangan manusia untuk kebutuhan seksual. Bagi mereka, para PSK, yang usianya merangkak tua, yang tertinggal adalah resiko penyakit dan keterasingan. Jika pamor tubuhnya mulai turun, para pekerja seks itu memilih menjadi istri kedua atau simpanan yang menikah di bawah tangan.

Di Desa Belibis, banyak perempuan mantan pekerja seks menjadi simpanan orang-orang Jakarta yang bukan tergolong kaya atau berpangkat. “Suami anak saya ini datangnya seminggu sekali,” kata Bu Tinah, 60 tahun, ibu dari Lisna, 30 tahun, perempuan dengan tiga anak. Ayah ketiga anak Lisna berbeda-beda karena acapkali suaminya tidak muncul lagi setelah anaknya lahir.

Kalau tidak menjadi isteri muda, mereka berganti peran menjadi bagian dari trafficker, mencari gadis-gadis dari berbagai kampung dan daerah-daerah pedesaan, mengiming-imingi mereka dengan kehidupan yang serba nyaman.

Dengan demikian, Teori Foucault, tokoh postmodernisme dari Perancis tentang keterkaitan kapitalisme dengan represi modern atas seksualitas mendapatkan pembenarannya. Sayangnya, ideologi kapitalisme yang berkembang di negara manapun tidak pernah memberikan kekayaan dan kemakmuran bagi para budak. Sebaliknya, para juragan terus mempertontonkan pola hidup konsumen tajir terhadap para budaknya tanpa diimbangi dengan pemberian fasilitas maupun upah yang memadai. Akibatnya, keinginan tidak sesuai dengan keadaan. Tingkat kriminalitas pun meningkat, termasuk wanita-wanita yang rela terjun menjadi pelacur.

Kondisi itu semakin parah jika usia semakin bertambah. Karena pada kondisi itu, aset tubuh yang biasa dijual sudah mulai mengalami penurunan. Tak heran, jika orangtua di Indramayu akan sangat memanfaatkan keadaan anak gadisnya yang masih belia untuk mendulang rupiah sebanyak mungkin. Prinsip aji mumpung ini kerap dibarengi pula dengan upaya-upaya mistik yang beresiko tinggi, seperti pesugihan.

Upaya-upaya mistik itu terkadang juga masih terus dipraktekkan meski usia anak gadisnya sudah lanjut dan pasarannya pun mulai anjlok. Salah satunya seperti yang saat ini banyak digunakan oleh para PSK yang tergolong Setengah Tuwir (STW), yaitu dengan melakukan apa yang disebut sebagai Ritual Luru Duit, atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “mencari uang.”



MAKAN CICAK PUTIH

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah tersebut dipegang teguh oleh para PSK di Indramayu. Artinya, banyak cara untuk bisa mendapatkan uang, meski kondisinya sudah tidak memungkinkan. Bagi para PSK yang sudah STW, tentu saja usia yang semakin lanjut menjadi warning yang tidak boleh dianggap remeh. Mereka harus sesegera mungkin mempersiapkan diri agar tidak terlindas atau terkalahkan oleh para PSK pendatang baru yang tentunya lebih muda, segar dan cantik.

Dari penelusuran Misteri, tak hanya para PSK muda Indramayu yang hingga kini gemar melakukan oleh spiritual untuk mendapatkan pelarisan. Para PSK STW pun ramai-ramai melakukan hal serupa. Salah satu oleh spiritual PSK STW yang dipercaya bisa membuat mereka awet muda dan tetap laris meski kulit sudah mulai keriput, ialah dengan rajin memakan cicak putih. Cara ini kedengarannya memang aneh, namun praktek seperti itu saat ini seakan sudah menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Hampir sebagian besar para PSK STW di Indramayu yang tidak ingin dirinya tergerus oleh zaman pasti melakukan hal ini.

Memakan cicak putih memang menjijikkan. Selain hewan melata itu tidak lazim dikonsumsi, bentuk serta pola hidupnya pun hampir mirip dengan binatang purba. Dan yang paling tidak memungkinkan, jumlah populasi cicak putih di Indonesia terbilang minim, sehingga sulit didapatkan. Bahkan, di Indramayu sendiri, untuk bisa mendapatkan cicak putih bukan perkara yang gampang. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan satu ekor saja.

Lantas, berapa dan bagaimana cicak putih itu dimakan?

Menurut kepercayaan para PSK STW yang entah didapatkan darimana, cicak putih yang harus dimakan agar mereka bisa awet muda adalah berjumlah sepuluh ekor dalam setiap minggunya. Ritual itu dilakukan selama sepuluh minggu atau dua bulan setengah. Jumlah itu boleh dimakan sekaligus dalam satu hari atau digilir secara rutin selama seminggu penuh.

“Yang jelas jumlahnya harus sepuluh ekor dan harus dimakan dalam waktu satu minggu. Kalau belum satu minggu cicak sudah habis semua, ya harus menunggu sampai minggu depan lagi. Tidak boleh langsung ditambah,” kata Ismiyati, 38 tahun, seorang PSK STW yang biasa mangkal di sekitar taman Wisata Pantai Tirtamaya, Karangampel.

Selama menjalani ritual itu, para pelakunya harus pula membarengi dengan membacakan beberapa amalan atau mantra khusus yang di kalangan orang Indramayu dikenal dengan sebutan Mantra Papaes. Mantra yang bunyinya sangat dirahasiakan dan hanya boleh disebarkan di kalangan para PSK STW itu jumlahnya terdiri dari empat bait, dan harus dibacakan pada setiap malam Selasa Legi selepas pukul dua belas malam, selama masa waktu dua setengah bulan ritual. Efek dari Mantra Papaes dipercaya akan memperkuat laku ritual fisiknya, yaitu makan cicak putih.

Ismiyati termasuk golongan PSK yang sudah senior dan kenyang makan asam garam dunia hitam tersebut. Bayangkan saja, dia sudah terjun menjadi PSK sejak masih berumur 15 tahun. Dia termasuk salah seorang korban perdagangan perempuan. Karena merasa langkah tersebut dianggap paling baik untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hingga kini Ismiyati mengaku tidak akan banting stir, meski usianya sudah di ambang batas.

Apa tidak takut bakalan kalah bersaing dengan yang muda? “Makanya saya melakukan ritual ini karena saya takut. Kalau hasilnya sih boleh dicoba,” ujar Ismiyati dengan gayanya yang masih tetap genit. Mungkin mirip masa mudanya dulu.

Praktek yang sama juga dilakukan Zamilah, 33 tahun, PSK STW yang kerap menjajakan diri di pertigaan Celeng, Jatibarang. Sama halnya dengan Ismiyati, Zamilah juga sering melakukan hal serupa, yaitu rajin makan cicak putih. Cara serta waktunya pun tidak terlalu sulit. Cicak-cicak putih itu bisa dimakan kapan saja, tanpa ada aturan waktu yang baku. Zamilah juga terlihat bingung saat ditanya siapa yang pertamakali mengajarkan ilmu tersebut.

“Pokoknya dari dulu kepercayaannya sudah seperti ini. Kalau Mas tidak percaya, coba saja tanya seluruh PSK STW di Indramayu, jawabannya pasti sama. Mereka melakukan hal yang sama dengan saya. Tradisi yang saya lakukan ini sudah berlaku dari mulut ke mulut dan turun temurun,” ungkap Zamilah dengan nada meyakinkan.

Hanya saja, Zamilah sedikit mendalami tata cara dan makna dari memakan cicak putih. Menurutnya, cicak putih harus mulai rutin dimakan sejak memasuki usia 30 tahun. Di usia itu, beberapa organ vital wanita akan mengalami penurunan. Salah satu yang mudah dilihat adalah kulit muka yang mulai keriput. Keadaan itu lambat laun tidak bisa ditutupi meski sudah dilapisi dengan make-up merek terkenal sekalipun. Selain itu, yang terpenting adalah “rasa.” Rasa inilah yang menurut Zamilah akan mempengaruhi daya jualnya di mata para konsumen. Rasa yang dimaksud adalah pada saat berhubungan badan.

Konon, wanita berumur yang biasa memakan cicak putih rasanya akan lain dengan wanita yang sama sekali tidak melakukannya. Zamilah sudah berulangkali mencobanya. Dia kerap mendapatkan pujian dari para konsumennya. Tarifnya pun sampai kini masih terbilang tinggi, yaitu berada pada kisaran di atas Rp.100 ribu untuk sekali kencan. Tarif tersebut hampir sama dengan para PSK muda belia yang mangkal di wilayah Indramayu pelosok.

Diakui Zamilah, PSK STW yang banyak bertebaran di Blanakan, Subang, juga melakukan hal yang sama. Terbukti, pasaran mereka laku keras, bahkan bisa mengalahkan yang lebih muda. Banyak pula di antara mereka yang menjadi isteri simpanan para pejabat dan pengusaha.

“Masa sih Mas tidak tahu, lha wong bolak balik masuk TV. Yang nongol dari Blanakan kan mesti PSK STW. He…he…he…!” Ujarnya enteng, dengan tawanya yang centil.

Untuk mendapatkan cicak putih, baik Ismiyati maupun Zamilah harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra, karena memang cukup sulit. Untuk itu, dia berani memasang tarif untuk satu ekor cicak putih itu seharga Rp. 20 ribu bagi siapa saja yang bisa menangkapnya. Orang-orang tersebut sengaja dia suruh agar berkelana ke berbagai daerah untuk mendapatkan makhluk langka tersebut. Bahkan, harga tersebut masih akan bertambah, jika cicak yang didapatkan ukuran tubuhnya lebih besar.

Cicak-cicak tersebut tentu saja tidak dimakan langsung, melainkan terlebih dahulu digoreng atau dimasak. Tidak takut ketahuan orang atau keluarga?

“Wah, di sini sudah biasa, Mas. Hal seperti itu wajar-wajar saja. Namanya juga usaha,” ujar Zamilah.

Efek yang didapatkan setelah memakan cicak putih tersebut, menurut pengakuan beberapa PSK STW, mereka merasakan seperti muda kembali. Sugesti yang didapatkan sangat besar. Hal itu tentu berefek pada pola dan gaya bercinta mereka. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah alat kelamin mereka konon terasa lebih rapat dan legit. Keadaan itulah yang kabarnya membuat para pelanggan akan terus ketagihan sampai kapan pun.



DARAH GORENG

Selain makan cicak putih, para PSK STW di Indramayu yang sedang menjalani ritual Mantra Papaes juga harus memakan darah goreng. Darah yang digoreng tersebut berasal dari darah hewan seperti kambing, sapi, ayam, kuda, dan kerbau. Darah yang digoreng itu berasal dari darah bekas penyembelihan. Setelah darah itu berhasil dikumpulkan, terlebih dahulu dibekukan dengan cara disimpan di dalam kulkas selama sehari semalam. Selanjutnya, darah gumpalan yang sudah mengeras itu dipotong-potong dengan ukuran sesuai selera.

Setelah dipotong lalu dibumbui sesuka hati pula. Selanjutnya, potongan darah beku itu digoreng. Orang Indramayu biasa menyebut makanan tersebut dengan nama Marus. Hobi memakan marus di kalangan PSK STW dipercaya bisa mendatangkan kekuatan seks yang luar biasa. Siapapun yang memakannya dapat perkasa di atas ranjang laksana kuda betina, sehingga berhadapan dengan laki-laki manapun pasti akan dibuat bertekuk lutut.

Para PSK STW di Indramayu menurut pengakuan beberapa di antaranya, tak pernah lupa melakukan ritual yang satu ini. Memakan darah goreng ini merupakan pelengkap yang harus dilakukan selain memakan cicak putih. Waktunya pun diusahakan berada di antara waktu makan cicak putih. Jadi, kalau bisa setelah memakan cicak putih dilanjutkan dengan memakan darah goreng.

Namun, memakan darah goreng ternyata tidak sembarang PSK STW bisa melakukannya. Karena biasanya, pasti akan muntah. Nah, agar tidak muntah sebaiknya sebelum melaksanakan ritual ini, terlebih dahulu puasa selama tiga hari. Dan pada hari terakhir dengan cara mutih alias hanya memakan nasi putih saja.

“Kalau tahapan itu sudah bisa dilalui, memakan dua benda menjijikkan itu akan berubah menjadi kebiasaan. Dan, rasanya pun pasti enak,” kata Lilis, 39 tahun, PSK STW lainnya.

Selain dua cara tadi, seluruh tahapan ritual tersebut biasanya diakhiri dengan cara minum dan mandi air keramat dari Gunung Kromong yang terletak di Bongas, daerah yang sebagian masuk wilayah Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Gunung tersebut dipercaya memiliki air keramat yang sangat luar biasa ampuh. Air dari sumber mata air yang tak pernah habis sejak dulu meski di musim kemarau itu juga dijadikan pengairan puluhan hektar sawah di wilayah Indramayu.

Masyarakat dari berbagai daerah di Indramayu setiap tahunnya selalu berdatangan ke Gunung Kromong untuk menimba air keramat. Mereka selalu membawa jerigen dan wadah lainnya. Mereka sering berebut dengan para PSK yang juga sama-sama mencari berkah dari air tersebut. Konon, air dari Gunung Kromong jika digunakan untuk minum atau mandi bisa memberikan arura awet muda. Dan, jika digunakan untuk mengairi sawah, meski jumlahnya terbatas, dipercaya sawah tersebut akan menghasilkan panen yang melimpah ruah.



Selengkapnya...

Misteri Pancuran Emas Balai Raja

Desa Balai Raja terletak di wilayah Kecamatan Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Desa ini memiliki panorama khas alam pedesaan yang masih asri, sebab banyak areal pesawahan yang terbentang luas. Wilayahnya juga masih banyak ditumbuhi aneka jenis pepohonan, khususnya pohon Jati. Bahkan sekilas desa ini mirip hutan belantara, karena penduduknya masih sangat jarang. Namun yang paling menarik, desa ini pun penuh dengan misteri yang belum terungkap hingga sekarang.

Mohammad Zaenuddin, 35 tahun, menuturkan bahwa beberapa waktu yang lalu, persisnya pada bulan Agustus 2006, terjadi peristiwa yang cukup menghebohkan masyarakat setempat. Pada waktu itu bertepatan dengan malam Jum’at Kliwon. Dari atas langit tiba-tiba meluncur seberkas sinar yang sangat terang . Sinar itu berputar-putar dan kemudian jatuh di salah satu sudut desa tersebut.

“Waktu itu banyak warga yang menyaksikan turunnya cahaya tersebut. Ada orang yang menyebutnya sebagai UFO atau makhluk luar angkasa yang mendarat. Anehnya, ketika pagi harinya kami mendatangi titik lokasi jatuhnya sinar itu, ternyata tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan,” papar Zaenuddin.

Beberapa tokoh masyarakat setempat uang faham dengan masalah gaib kemudian memperkrakan sinar itu tak lain adalah sesuatu yang dalam terminologi kaum kebatinan disebut sebagai Pancuran Emas. Konon, benda ini bisa diwujudkan ke dalam dimensi nyata melewati sebuah prosesi ritual khusus.

Berita tentang keberadaan pancuran emas inipun dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Berita ini sampai pula ke desa lainnya, bahkan sampai ke luar wilayah Indramayu. Hal ini membuat orang-orang yang memiliki kemampuan lebih, atau tepatnya ahli supranatural, berdatangan untuk mengetahui peristiwa gaib tersebut. Sekaligus, mereka juga ingin memburu apa yang disebut sebagai Pancuran Emas itu.

Memang, atas peristiwa turunnya sinar di malam Jum’at Kliwon itu, para pakar dunia kegaiban kemudian banyan yang mengatakan bahwa di desa itu tersimpan harta karun, yang salah satunya adalah berbentuk Pancuran Emas. Tak tanggung-tanggung, beratnya kurang bisa mencapai 1 kwintal. Hanya sayangnya, mereka yang datang dan mencoba melakukan negosiasi dengan penghuni gaib di desa ini, masih belum ada yang berhasil mengangkat harta karun tersebut.

Masih menurut cerita Zaenuddin, selang dua minggu setelah peristiwa yang menghebohkan itu, dia kedatangan tamu dari daerah Bekasi. Tepatnya sang tamu mengaku berasal dari Desa Babelan, Kec. Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Namanya adalah Agung Suherman. Nah, orang ini mengaku datang ke Indramayu karena mendapat pesan gaib untuk mengungkap sekitar peristiwa munculnya Pancuran Emas di Desa Balairaja.

Yang menarik, orang yang akrab disapa Pak Agung ini mengaku sebagai salah seorang cucu dari Ibu Sarinah, sebuah nama yang kemudian sangat terkenal karena dilekatkan menjadi nama salah satu pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Ibu Sarinah sendiri adalah tukang masak istana pada zamannya Presiden Soekarno masih hidup. Dia adalah orang kepercayaan dan tempat curhatnya presiden pertama republik ini.

Menurut pengakuannya, sampai sekarang pun Pak Agung ini masih mempunyai nenek dari alam gaib yang berdiam di daerah Cibaliung, Banten. Kabarnya, nenek inilah yang mempunyai pusaka berupa selendang gaib yang sangat hebat, karena siapa saja yang memakainya maka orang tersebut tidak akan terlihat oleh sesamanya (bangsa manusia) alias bisa menghilang. Di samping pusaka berupa selendang tersebut, si nenek gaib pun mempunyai pusaka berupa Kantong Macan (KM).

Pusaka KM ini pernah dipakai oleh pak Agung untuk menyedot uang hasil korupsi yang tersimpan di brankas sejumlah koruptor kakap baik dari kalangan pengusaha, birokrat, maupun TNI. Menurut Pak Agung, uang hasil korupsi boleh disedot karena telah membuat rakyat menjadi sengsara, dan hendaklah uang hasil sedotan itu dibagikan lagi kepada masyarakat.

Di samping itu, Pak Agung juga mempunyai berbagai pusaka, di antaranya Batu Mirah Delima yang dia simpan di lidah patung ular naga, di cupu emas, dan ditelan satu ke dalam tubuhnya. Yang menarik adalah Batu Mirah Delima yang disimpan di dalam tubuhnya. Jika batu langka yang banyak diburu orang itu akan dikeluarkan, maka mulut Pak Agung tampak seperti menyala.

Menurut penuturan Zaenuddin lagi, akhirnya dia dan Pak Agung berangkat menuju titik yang diperkirakan sebagai tempat jatuhnya sinar Pancuran Emas itu. Setelah sampai di titik tersebut, Pak Agung lantas mengadakan komunikasi dengan penunggu gaibnya. Dari hasil dialog tersebut didapat informasi bahwa dahulu kala Indramayu adalah sebuah kerajaan kecil, yang salah satu rajanya waktu itu dipegang oleh seorang yang bernama Indrajaya.

Konon di zaman dahulu kala, di salah satu tempat yang masih termasuk wilayah kerajaan Indarajaya itu, memang ada kegiatan usaha berupa pendulangan emas yang dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara mengayak pasir yang bercampur emas. Karena emas dan pasir yang keluar dari ayakan mirip sebuah pancuran, maka penduduk setempat kemudian waktu itu menamakannya Pancuran Emas.

Adapun sinar yang terang itu sesungguhnya adalah bersala dari pusaka besi kuning, milik sang raja Indramayu. Dikisahkan, suatu waktu itu raja Indramayu ini berkunjung di desa itu (Balairaja) untuk melihat para pekerja tambang emas. Karena yang datang seorang raja, maka dibuatlah balai atau tempat duduk/rumah kecil untuk sang raja sambil melihat-lihat para pekerja. Itulah makanya desa itu kemudian dinamai Balai Raja.

Mengenai emas seberat 1 kwintal, yang dimaksud sebenarnya adalah bahwa tanah di tempat ini mengandung emas, seperti di daerah Cikotok. Jika ada pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan mengetahui lokasi tersebut, maka bisa jadi tanah itu akan dibeli dengan harga tinggi, yang tentunya akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi pengusaha tersebut.

Itulah penjelasan gaib seperti yang dituturkan oleh Pak Agung yang telah berhasil melakukan dialog gaib dengan sosok dimensi astral yang bernama Indrajaya. Kendati demikian, Pak Agung pun tidak menampik bahwa di desa ini pun memang terpendam emas batangan dan senjata kuno seperti keris dan tombak. Bahkan menurutnya, mahkota kerajaan yang sebagian besar bertatahkan mutiara, intan dan emas, pun masih tersimpan di perut bumi Desa Balai Raja.

Di samping itu, juga ada pusaka berupa besi kuning yang dapat menghantarkan si pemiliknya menjadi orang nomor satu di daerahnya, seperti menjadi gubernur atau bupati. Hal tersebut terjadi karena kuatnya aura, yang ada di dalam pusaka tersebut.

Dengan rendah hati Oak Agung menyanggupi untuk menarik mahkota dan pusaka itu, asal ada yang berhak atau ahli waris yang merupakan asli putera daerah, yang siap untuk menerimanya. Nah, mungkin saja ada yang berminat ?

Misteri yang merasa sangat tertarik dengan cerita Zaenuddin, pada hari Sabtu 31 Maret 2007 yang lalu, dengan diantar olehnya, meninjau lokasi yang diperkirakan sebagai bekas penambangan emas kuno di Desa Balai Raja ini. Ternyata lokasi ini cukup menyeramkan! Apalagi di sana-sini tumbuh aneka macam jenis pepohonan yang tampak tidak terurus lagi, seperti pohon Mangga, Nangka, Pisang dan Jati, di samping juga sebuah terdapat aliran sungai besar.

Zaenuddin mengaku bahwa bulu tengkuknya berdiri, saat memasuki lokasi yang disebut-sebut bekas penambangan emas ini. Misteri sendiri pun merasakan hawa dingin beraroma mistis menyergap, ketika mengambil beberapa gambar di lokasi tersebut. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun segera berlalu dari tempat yang sangat menyeramkan tersebut.

Selengkapnya...

Kerajaan Gaib di Kedung Blok Istal

Apabila memasuki musim penghujan, tak pelak, sebagian besar warga s kecamatan Pamanukan dan kecamatan Legon Kulon, mulai merasa was-was. Ya … banjir yang terjadi dua tahun lalu bakal terulang lagi. Para pembaca tentu masih ingat betapa tentang bencana banjir yang melanda kabupaten Subang dua tahun lalu, di mana yang paling parah dialami oleh para warga kecamatan Pamanukan.

Saat itu, ketinggian air mencapai 2 meter, dan terendah 60 cm, melahap rumah dan pesawahan penduduk. Sebanyak kurang lebih 5000 tempat tinggal dan 1000 Ha lebih areal pesawahan tenggelam. Padahal ketika banjir datang, padi sedang akan menguning. Tak hanya itu, seorang penduduk dikabarkan meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik.

Hal itu berawal dari jebolnya tanggul sungai Cipunagara, sebelah barat sepanjang tiga puluh meter. Tepatnya tanggul yang berada di Blok Istal (nama kampung) di desa Mulyasari, Padahal lokasi tanggul yang jebol itu ada di pusat kota, sekitar 50 m dari ruas jalan raya yang menghubungkan Subang dan tempat wisata Pondok Bali. Bahkan, terletak di belakang rumah dinas Camat.

Entah, sudah berapa biaya yang dihabiskan untuk perbaikannya. Anehnya, dibekas jebolnya tanggul, tanah ukurannya selalu melesak dan bahkan temboknya sudah mulai terlihat akan roboh lagi.

Boleh dikata, setiap musim penghujan tiba, bukan hanya warga yang terdekat saja yang merasa khawatir, mereka yang mukim berjauhan pun turut merasakan hal yang sama. Jadi jangan heran, pada jam-jam tertentu, pengeras suara di musholah-musholah selalu mengingatkan agar penduduk tidak tidur terlalu lelap karena air sungai Cipunagara sedang naik. Belum lagi kentongan-kentongan yang bertalu-talu sehingga sauasana jadi bertambah mencekam. Ya … mereka benar-benar trauma dengan peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu.

Walau setelah jebol tanggul langsung diperbaiki, tetapi, di malam hari, terutama saat musim penghujan, tidak membuat penduduk menjadi bertambah tenang. Mereka seolah tak yakin dengan kekuatan tanggul itu dalam menahan derasnya air yang melimpah.

“Coba saja direhab. Walau Pemda mengeluarkan duit banyak, tapi, pasti bakal jebol lagi. Mending duitnya dibagikan saja kepada rakyat miskin yang butuh makan,” demikian gerutu lelaki yang tak mau disebutkan namanya.

“Memangnya kenapa Kang?” Tanya Misteri ingin tahu.

“Coba lihat, baru beberapa bulan lalu direhab besar-besaran … sekarang, tanah urugannya sudah amblas. Padahal enggak sedikit tanah merah diurugkan kesana, tapi, mana sekarang tanahnya?” Paparnya sengit sambil menunjuk ke tempat yang tembok betonnya sudah miring.

“Memangnya kenapa?” Misteri pun kembali bertanya dengan datar.

“Seharusnya yang duduk di pemerintahan itu percaya kalau dari dulu masyarakat di sekitar sini sudah tahu ada sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata lahir,” sahutnya lirih.

Menurut beberapa keterangan yang berhasil diendus Misteri, persis di lokasi jebolnya tanggul, tepatnya di kaki tanggul ada semacam lubang besar. Dan hal itu dibenarkan oleh orang tua yang benar-benar tahu keadaan tempat itu. Menurutnya, pada mulanya lubang itu dipergunakan untuk pembuangan sekam yang berasal dari salah satu penggilingan padi. Ya … hanya berjarak kurang lebih seratus meter dari tanggul terdapat sebuah penggilingan padi peninggalan kolonial Belanda. Konon, kala itu merupakan Huller terbesar di Jawa Barat. Walau masih berfungsi, tetapi, kini Huller tersebut hanya beroperasi ala kadarnya. Bahkan praktis terbengkalai. Dan seiring dengan berjalannya waktu, kini, Huller yang menempati lahan seluas 3 Ha dikuasai oleh pengusaha keturunan yang hanya memanfaatkan tempat itu seperempatnya saja. Sisa lahannya dibiarkan menyemak. Begitu juga dengan bekas lorong di bawah tanah yang dulu dipakai untuk pembuangan sekam ke sungai Cipunagara turut pula dibiarkan. Karena terlalu lama dibiarkan, tak pelak, orang pun mulai melupakan keberadaan lorong-lorong itu.

Berbeda dengan sudut pandang para supranatural, di dalam lobang besar di bawah tanggul itu terdapat suatu komunitas makhluk tak kasat mata. Pendapat itu tak ada yang menepis, apalagi, masyarakat sekitar pernah ada yang melihat penampakan kerbau bule yang berenang di saat air sungai sedang naik. Konon, kerbau bule itu sengaja menumbuk-numbukan sepasang tanduknya kearah badan tanggul, sehingga tanggul itu rapuh dan akhirnya jebol!

Misteri jadi penasaran. Setelah melihatsendiri betapa tak ada keanehan pada badan tanggul sejak mulai hulu hingga hilir, pertanyaanya, kenapa hanya tanggul di bilangan Blok Istal yang jebol? Pertanyaan ini akhirnya terjawab tuntas manakala Misteri berhasil beremu dengan saksi mata yang amat mengetahui peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun lalu di sana.

Dan lelaki yang sudah mendekati usia senja itu menuturkan panjang lebar peristiwa yang terjadi sekitar tahun 60-an kepada Misteri. Dan berikut adalah rangkumannya:

“Mungkin ini merupakan pembalasan dari para arwah orang yang ditenggelamkan hidup-hidup di lokasi itu,” tuturnya dingin.

Paparnya, saat itu, tepatnya, pada waktu penumpasan G 30 S/PKI, Kabupaten Subang merupakan salah satu tempat penampungan bagi para tahanan yang didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Boleh dikata, baik tahanan laki-laki (PKI dan antek-anteknya) dan wanita (Gerwani) semuanya diangkut dengan menggunakan keronjo (wadah yang terbuat dari anyaman bambu, dan sekarang biasa dipakai untuk mengangkut babi-pen). Tapi, ada keanehan bagi masyarakat yang melihatnya. Di antaranya, penjara tidak pernah penuh walalu tahanan selalu datang pada tiap harinya. Selain itu, wajah yang mereka lihat selalu baru. Tegasnya, wajah yang kemarin sempat mereka lihat, tidak bakal bisa terlihat lagi untuk selamanya.

Selidik punya selidik, akhirnya banyak yang tahu. Tiap tahanan datang, malamnya, dalam keadaan hidup-hidup mereka langsung dieksekusi tanpa diadili dengan cara kedua kakinya diganduli roda dogong (lori, kereta kecil-pen) yang terbuat dari besi milik Huller tersebut. Entah sudah berapa ratus nyawa dan roda lori yang tertanam di sekitar sungai Cipunagara di Blok Istal itu.

Tetapi, pendapat itu ditepis oleh salah seorang pemuka masyarakat yang telah mukim berpuluh-puluh tahun di Blok Istal. Menurutnya, komunitas gaib yang menghuni kedung Blok Istal itu punya hubungan dengan penghuni gaib sungai Kalisewo. Sungai yang merupakan pembatas antara dua kabupaten, Subang dan Indramayu, dan berjarak 20 Km arah timur Cipunagera.

Ditambahkan, warga yang mukim di sekitar Blok Istal itu terkadang melihat penampakan seorang wanita cantik yang turun dari angkutan umum dari arah timur. Tak lama kemudian, sosok itu menuju ke arah bibir sungai dan raib entah kemana! Biasanya, peristiwa semacam itu bakal terjadi bila air sungai sedang meluap. Selepas kejadian itu, siapa pun yang menyaksikan bakal bercerita kepada warga untuk mengingatkan kepada mereka bahwasanya bencana bakal datang.

Yang jelas, keanehan yang terjadi di Blok Istal bukan melulu penampakan wanita misterius saja. Pernah sekali waktu ada salah seorang warga masyarakat yang melihat penampakan seekor buaya yang teramat besar berenang dengan kecepatan yang fantastis dari hilir menuju hulu. Tetapi, ada suatu peristiwa menggemparkan di rentang tahun 80-an yang sampai sekarang masih menjadi buah bibir masyarakat setempat.

Kali ini, kejadian itu menimpa 5 orang kuli panggul yang setiap hari duduk di pinggiran jalan raya tepat di depan pintu gerbang Huller menunggu gerbang yang berjarak sekitar 30 meter dari tanggul itu dibuka oleh para centeng. Dan seperti biasa, mereka pun berbincang dengan asyik. Keasyikan itupun mendadak terhenti. Betapa tidak, tanpa terlihat dari mana datangnya, mendadak di depan mereka berhenti sebuah becak yang mengangkut seorang penumpang wanita yang berwajah cantik dan berbadan sintal berisi.

Mereka terkesima. Yang jelas, mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa sosok nan seksi dan menawan itu turun dari becak dan berjalan menuju tanggul. Entah berapa lama mereka terdiam mengkuti angannya masing-masing. Dan mereka mulai tersadar manakala si tukang becak dengan setengah berteriak berkata sambil memerlihatkan selembar daun sirsak, “Kang … lihat … lihat … lihat!”

Awalnya, tak seorang pun dari mereka ada yang mengerti maksudnya. Dengan suara memberondong, si tukang becak pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya. “Perempuan tadi mengaku dari Cirebon dan minta diantar ke sini …” kata si tukang becak. Seketika, kesadaran mereka berlima pun pulih. Dengan serta merta memburu ke tanggul. Tapi apa yang terjadi? Walau dicari sampai belasan menit, si wanita itu tetap saja tampak tampak batang hidungnya. Ya … raib bak ditelan bumi!

Akhirnya, dengan digayuti perasaan takut yang teramat sangat, mereka pun kembali ke dapan pintu gerbang untuk menenangkan diri. Ya … mau tidak mau, kita memang harus memercayai keberadaan makhluk tak kasat mata yang juga merupakan ciptaanNya.

Selengkapnya...

Berburu Harta Karun


Kali ini, seorang teman yang tinggal di daerah lintas Riau, tepatnya di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit Kota Bagan Batu, Kec. Rokan Hilir, Sumatera Utara meminta bantuan dalam hal penarikan harta karun. Sang teman menyebutkan, keberadaan lokasi harta karun itu tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga. Tepatnya di sebuah jembatan tua yang dikenal warga setempat dengan nama Jembatan Bulu Cina.

Yang menarik, konon lokasi jembatan tersebut dulunya adalah bekas sebuah pelabuhan dagang. Tepatnya di masa penjajahan Belanda. Warga setempat juga meyakini adanya timbunan harta karun peninggalan dari jaman penjajahan Belanda di lokasi ini.

Setelah mengumpulkan keterangan warga sekitar, diperkuat lagi oleh seorang paranormal setempat yang tingal tidak jauh dari Kota Bagan Batu bernama Pak Thamrin, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Pak Marsobe, memang keberadaan harta karun itu bukannya cerita isapan jempol semata.

Setelah mengumpulkan berbagai informasi,dengan dibantu sejumlah teman mulai menyusun strategi untuk melakukan pekerjaan yang termasuk nyeleneh dan muskil tersebut.

Tidaklah mudah untuk menemukan lokasi yang disebutkan oleh sejumlah sumber sebagai areal kuburan harta karun itu. Ini terbukti ketika kami hunting untuk melihat lokasi perburuan, setelah dua jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai di lokasi, kami masih harus mengadakan penyisiran.

Malam itu, tepat pukul 23.30, kami baru menemukan lokasi dimaksud. Tidak banyak persiapan yang kami bawa sebab memang tujuan kami kali ini hanya untuk sekedar melakukan pendeteksian seputar benar tidaknya keberadaan harta karun dilokasi tersebut.

Benar yang dikatakan Pak Marsobe, makhluk-makhluk penunggu lokasi tersebut sangatlah banyak dan amat sulit untuk bisa diajak berkomunikasi.

Malam itu kami beranggotakan 5 orang, dan diantaranya adalah Pak Marsobe sendiri.

Saat malam kian larut, udara pun semakin dingin. Hal ini menambah suasana di sekitar lokasi semakin mencekam. Namun kondisi ini tidaklah menyurutkan semangat kami untuk melakukan pendeteksian.

Seperti biasa, kami terlebih dahulu melakukan doa-doa dan tawasul, mohon perlindungan kepada Allah SWT, para Nabi beserta para wali Allah, agar kami terhindar dari gangguan dan tipu daya para gaib penghuni lokasi.

Dalam suasana kekhusyuk, tiba-tiba salah seorang anggota kami ada yang mengalami ketakutan yang amat sangat. Badannya menggigil, seperti orang kedinginan. Apa yang terjadi?

Rupanya, anggota yang satu ini memang memiliki bakat untuk mampu melihat sesuatu yang gaib. Rupa dia melihat beragam jenis makhluk halus, yang jumlahnya sangatlah banyak.

Pemandangan tersebut juga disaksikannya dan anggota lainnya dalam kontemplasi. Terbukti, semakin lama kami memasuki alam mereka, jumlah mereka semakin bertambah banyak.

Pada saat itu, kami mengalami sedikit keraguan. Apakah mungkin kami mampu menghadapi makhluk gaib dengan jumlah yang begitu banyak? Dan terus terang, ini merupakan kaus pertama yang kami alami; Menghadapi koloni makhluk halus dengan jumlah yang amat banyak.

Di tengah kebingungan dan kebimbangan yang berkecamuk, tiba-tiba di tengah kerumunan makhluk gaib itu, muncul selarik sinar putih yang sangat berkilau. Sinar itu melesat, lalu jatuh menghujam di antara kerumunan makhluk-makhluk halus. Apa yang terjadi? Makhluk-makhluk itu berteriak sambil lari pontang-panting meninggalkan arena.

Selang beberapa saat kemudian, kami melihat cahaya tersebut berubah menyerupai wujud guru kami. Dan tidak lama kemudian cahaya tersebut hilang, disusul dengan hadirnya dua sosok wanita cantik yang mengenakan kebaya bermotif batik. Bau aroma daun pandan langsung menusuk hidung.

Salah seorang anggota tim yang memang berasal dari perguruan yang sama, memang sudah terbiasa dengan adanya gelagat kurang baik dalam melakukan perburuan benda gaib. Dengan hadirnya dua sosok gaib di hadapan kami, seketika itu langsung mengisyaratkan kepada anggota yang lain untuk menghindar dari lokasi tersebut, meninggalkan teman seperguruan.

Setelah kami merasa kondisi anggota yang lain aman, maka kami berdua mencoba berkomunikasi dengan kedua sosok wanita tersebut. Beberapa kali kami mengucapkan salam, akan tetapi tidak pernah mendapat jawaban.

Selang beberapa lama kami belum juga berhasil mengajak berkomunikasi kedua makhluk gaib berwujud wanita berkebaya tersebut. Melihat kondisi ini, untuk mengorek sedikir keteranbgan tidak ada jalan lain kecuali dengan sedikit kekerasan.

Satu syair ayat kalimat penakluk bangsa siluman dan jin kami baca dengan penuh keyakinan. Usaha ini ternyata membuahkan hasil. Kedua makhluk itu sambil sedikit menghardik meminta kami untuk tidak membaca lagi ayat tersebut. Dengan sorot mata nanar, mereka terus memandangi kami. Rupanya mereka sudah mulai melunak.

"Kenapa kalian tidak mau menjawab uluk salam kami?" Tanya Misteri.

"Kami bukan dari kaum kalian, dan untuk apa kalian jauh-jauh kemari dan mengganggu kaum kami?" Jawab salah satunya sambil menatap tajam. Tidak kami sangka sbelumnya, mereka akan melontarkan pertanyaan balik seperti itu.

"Sebagian harta yang terpendam di lokasi ini adalah hak sebagian warga di daerah ini. Untuk itu kami berniat untuk mengambilnya dan membagikannya kepada mereka," jawab Misteri.

Kembali mereka terdiam, dengan mata tidak lepas terus menatap tajam ke arah kami. Sesaat, mereka kembali membuka pembicaraan.

"Menjadi milik kami harta itu lebih baik daripada menjadi milik kalian. Apa yang bisa kalian berikan terhadap kami berdua bila sebagian harta di sini kulimpahkan kepada kalian? Dan aku tahu, kalian tidak akan memberikan sesuatu apapun kepada kami."

Belum sempat kami menjawab pertanyaan mereka, dua wanita gaib itu tangannya meraih sesuatu dari dalam tanah. Dan dari genggaman tangannya ada sesuatu yang gemerlap menyerupai sebentuk kalung yang terbuat dari emas, dan sebuah gelang yang sedikit berwarna agak kuning keputih-putihan.

Ternyata benar, sesuatu yang mereka ambil dari dalam tanah tersebut adalah sejumlah perhiasan kalung dan gelang. Sambil terus menatap tajam, salah satu sosok wanita gaib itu mengulurkan tangannya kepada kami sambil berucapa, "Terimalah barang ini terlebih dahulu, dan pertimbangkan keinginan kami berdua."

Setelah Misteri menerima benda tersebut, belum sempat bertanya lebih banyak lagi, perlahan-lahan dua sosok wanita gaib tersebut menghilang dari hadapan kami. Tidak sempat lagi kami bertanya, kira-kira apa gerangan yang menjadi keinginan mereka.

Setelah kejadian itu, agak lama kami berdua terdiam untuk mengingat-ingat kembali apa yang mereka ucapkan, dan apakah kami yang terlupa mengenai permintaan mereka.

Setelah itu kami berdua kembali bergabung dengan anggota yang lain. Kami pun menceritakan semua hasil pembicaraan yang sempat kami lakukan dengan kedua makhluk penunggu Jembatan Bulu Cina. Dan ditambah lagi dengan pembicaraan beberapa buah perhiasan emas yang pada saat itu sudah ada di tangan kami berdua.

Pukul 03.00 dinihari, kami tiba kembali di rumah sang teman pemberi informasi. Setelah selesai menjalankan shalat malam, Misteri berniat untuk merebahkan badan. Tiba-tiba Misteri menangkap sinyal kontak gaib dari sang guru. Segera Misteri melakukan posisi tafakur untuk menyatukan batin dengan guru yang berada di Ujung Kulon, Banten.

Dari hasil kontak batin yang Misteri terima, sang guru menyarankan untuk segera meninggalkan Kota Riau saat itu juga. Dan tanpa tahu lagi apa alasannya sehingga kami harus meninggalkan pekerjaan yang baru saja kami kerjakan, malam itu juga Misteri dan sang teman seperguruan sefera berpamitan pada anggota tim yang lain. Mereka tentu saja tak habis pikir dan bingung dengan apa yang kami putuskan. Tetapi mereka pasti akan mengerti bahwa apa yang kami kerjakan adalah suatu hal yang menyangkut pekerjaan yang diluar kuasa lahirlah, dan semua berlangsung secara batiniah dan gaib.

Di pagi buta itu, kami berdua beranjak meninggalkan Kota Riau, persisnya di Bagan Batu, untuk segera menuju bandar udara di Pekan Baru. Kami langsung membeli tiket penerbangan menuju Jakarta.

Ringkasnya, kami akhirnya tiba kembali di tempat guru mengasingkan diri. Tepatnya di daerah Ujung Kulon, Banten. Setibanya disana, kami langsung disambut oleh sang guru dengan raut muka yang sedikit berbeda dari biasanya. Tidak banyak yang dia ucapakan kepada kami.

Di tengah kebingungan melihat perubahan sikap sang guru terhadap kami berdua, sang guru lalu mengarahkan kami menuju suatu tempat berupa goa di lereng bukit. Goa ini biasa dipergunakan oleh guru kami untuk menyepi ke hadapan Gusti Pangeran, Allah SWT.

Di dalam goa, kami berhadapan dengan tiga buah peti yang berukuran sekitar 50 Cm persegi dengan kondisi peti terbuat dari logam seperti kuningan yang sudah usang dan berkerat. Jarak kami berkisar tiga meter dari posisi ketiga buah peti tersebut tergeletak.

Sambil duduk bersila, kami bertiga menghadapi ketiga peti tersebut. Dan di tengah keheningan suasana, sang guru memberikan isyarat kepada kami sambil berkata, "Coba kalian berdua membuka mata batin kalian. Dan lihatlah apa yang sedang kalian hadapi?"

Kami berdua sempat terperanjat melihat keberadaan ketiga peti tersebut, sebab diatasnya telah duduk tiga anak kecil masing-masing di atas satu peti tersebut. Dan yang membuat kami lebih heran lagi, ternyata ketiga anak kecil tersebut adala anak-anak manusia. Mereka adalah satu anak teman seperguruan Misteri, satu lagi anak dari paranormal Negeri Lama Pak Marsobe, dan satu lagi anak Misteri sendiri sendiri. Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Selang beberapa saat, anak-anak itu menghilang dari pandangan kami, dan kembali kami melihat hadirnya dua sosok wanita gaib yang sempat kami temui di lokasi harta karun yang ada di Jembatan Bulu Cina. Kedua sosok gaib tersebut sangat ketakutan ketika guru kami coba mendekati mereka.

Tidak jelas apa yang guru ucapkan kepada mereka. Namun yang kami tahu, kedua sosok gaib tersebut membuka masing-masing peti tersebut dan memperlihatkan isinya kepada kami.

Ternyata, peti tersebut kesemuanya berisikan perhiasan emas yang tidak terhitung lagi jumlah dan ragamnya. Dengan sedikit tersenyum, sang guru memandang kami berdua. Tidak lama kemudian, tangan sang guru eperti mengisyaratkan agar kedua sosok perempuan gaib tersebut untuk segera pergi.

Tak lagi kemudian, kedua sosok gaib tersebut sambil memandang kami berdua dengan sorot penuh amarah, perlahan menghilang dari pandangan. Bersamaan dengan itu ketiga peti harta juga menghilang dari hadapan kami bertiga. Apa yang terjadi?

Sang guru kami memberi penjelasan...:

Dengan gambaran ketiga anak-anak tadi, para gaib yang ternyata jelmaan dari siluman buaya putih penghuni sungai mati Bulu Cina sesungguhnya menginginkan agar ketiga anak itu dijadikan tumbalnya.

"Mereka memberi dua pilihan. Pertama menumbalkan anak kalian, dan yang kedua kalian harus bersedia dijadikan suami-suami sosok siluman tersebut. Asal kalian tahu, ketiga peti yang berisikan perhiasan tadi merupakan sebagai pinangan mereka terhadap kalian," jelas sang guru.

Pilihan terakhir itulah yang membuat guru kami pada saat itu memandang kami dengan sedikit senyuman. Kedua syarat tersebut tidak ada yang kami sepakati.

Kesimpulan yang kami peroleh dari keterangan dari guru kami ternyata sosok siluman buaya putih tersebut ternyata tidak rela melepaskan kami begitu saja. Untuk itulah, kami berdua tidak diperkenankan keluar dari goa tempat bersemedi selama tiga hari tiga malam, sambil menjalankan puasa dan zikir tertentu untuk permohonan ampunan dan taubat kepada Allah SWT.

Setelah tiga hari, kami baru keluar dari goa. Dibimbing sang guru kami melangkah meninggalkan goa, karena kondisi tubuh kami waktu itu memang sudah sangat lemah dikarenakan selama tiga hari puasa dengan setiap sahur dan bukanya hanya menelan air putih mentah dan makan pucu-pucuk daun muda yang ada di sekitar goa tersebut.
Begitulah kisah ini dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada guru tercinta. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT dari tipu daya setan dan iblis yang akan menjerumuskan kita ke lembah kenistiaan dan kemurtadan.

Selengkapnya...